Tampilkan postingan dengan label Kreativitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kreativitas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2012

Mengembangkan Rasa Percaya Diri Anak

ANAK yang percaya diri memiliki modal penting untuk masa dewasanya kelak, bila memang sudah ada bakat alami percaya diri,hal ini bukan masalah, nah buat anak yang 'terlalu Pemalu' ada baiknya orangtua membaca sampai selesai artikel ini. Percaya diri adalah kunci sukses. Rasa percaya diri yang tinggi terbentuk karena anak punya gambaran tentang diri yang positif, yang dibangun oleh anak melalui pengalaman sehari-hari selama berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya:

Tidak dibandingkan dengan anak lain, dimaklumi kemampuannya. Anak yang selalu dibanding-bandingkan menerima pesan, “Kamu tidak sebaik anak lain”. Merasa diri tak sebaik anak lain, ia mengembangkan rasa rendah diri, bukan percaya diri.
Tidak dihukum karena kesalahannya, membuatnya paham bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Anak-anak, tentu saja melakukan banyak kesalahan. Misalnya mainan yang tersebar di mana-mana, bukan alasan untuk menghukumnya, tetapi perlu dilatih tentang arti penting kerapian.
Dibiarkan mencoba menyelesaikan tugas sendiri, tidak serta merta dibantu. Tugas seperti makan sendiri, melepas baju sendiri, memakai sepatu dan meletakkan sepatu atau handuk pada tempatnya, membuat anak bangga dapat melakukannya. Rasa percaya dirinya pun terbangun. Kunci penting untuk membangun rasa percaya diri anak adalah memberinya tugas dan kesempatan menyelesaikannya tanpa bantuan.
Dipuji sesuai pencapaian. Semua anak senang dan butuh dipuji. Penghargaan terhadap keberhasilan memang patut dihargai. Bagi anak, pujian adalah tanda ia melakukan sesuatu yang baik. Anak yang tidak pernah mendapat pujian, tak pernah tahu apakah ia melakukan sesuatu yang baik. Menjadi anak baik adalah keingingan setiap anak.
Diberi sebutan yang positif, seperti “anak rajin” atau “anak pintar”. Anak yang mendapat nama yang bagus akan mengembangkan diri sesuai sebutannya.
Bangunlah rasa percaya diri anak dengan strategi yang tepat:
Pahami kekuatan dan kelemahan anak. Lakukan pengamatan yang teliti terhadap anak, kemudian buat catatan tentang kekurangan dan kelebihannya. Contoh:
Kekuatan:
  • Mandiri.
  • Bisa main catur dengan langkah tepat.
  • Bisa berenang di kolam dalam.
Kelemahan:
  • Tak bisa menyanyi satu lagu pun.
  • Mulutnya bungkam, bila ditanya tak mau menjawab.
  • Tak mau ikut keriaan di acara 17 Agustusan.
Tonjolkan kelebihan anak, hindari mengungkit kelemahannya. Jangan minta anak pamer sesuatu yang tidak bisa dia lakukan. Bangun rasa percaya diri anak, ungkapkan kehebatannya, apa yang sudah dapat dicapainya di usianya ini. Penerimaan dan dorongan Anda dapat membentuk rasa percaya diri karena balita merasa punya peluang untuk dipuji.
Tetapkan batasan yang jelas. Tetapkan batasan dan konsekuensi yang jelas, serta keseimbangan antara disiplin yang ketat dan fleksibel.
  • Tuntutan yang tidak realistis dan hukuman yang tidak sepadan, membuat anak tak berdaya. Ketakberdayaannya membangun rasa rendah diri.
  • Konsisten menerapkan aturan yang harus dijalani oleh anak. Aturan yang tidak konsisten membuat anak bingung dan merasa tak berdaya.
  • Saat mendisiplin, orang tua tak berhak menilai, tidak menyerang pribadi anak yang bisa merendahkan harga diri anak.
Dengarkan anak. Tatap mata anak saat ia bicara, dan berikan perhatian pada yang dia sampaikan. Bahasa tubuh Anda terbaca oleh anak, apakah Anda memberi perhatian penuh atau sambil lalu. Perhatian membuat anak merasa dirinya penting. Keberadaannya yang penting ini  membangun rasa percaya diri. Kesibukan Anda membuat Anda sulit fokus pada satu hal, apalagi omongan anak yang bertele-tele. Luangkan waktu untuk mendengarkan anak bicara dan berlatih menanggapi omongan anak secara tepat. Ia butuh rasa aman untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya.
Maklumi kesalahan anak. Relakan bila anak berbuat salah dalam batas tertentu. Anak-anak harus didorong untuk menghadapi risiko atas pilihannya, meski pilihannya keliru. Bila anak melihat kesalahannya sebagai tantangan bagi kemampuannya, ia akan berani menghadapi risiko. Kemampuan mengatasi tugas sulit dan memperbaiki kesalahan adalah tanda, anak Anda merasa nyaman dengan dirinya sendiri, dia akan yakin bahwa ia mampu mengatasi masalah. Anak yang punya rasa percaya diri akan hidup bahagia.

Selasa, 24 Mei 2011

8 Cara Melatih Anak Berbicara

Setiap orang tua pasti ingin mendengar kata-kata pertama yang diucapkan si kecil. Meskipun begitu, Anda tidak harus terburu-buru memintanya untuk menirukan kata-kata Anda. Biarkan ia berbicara pada saatnya, yang harus Anda lakukan adalah memancingnya untuk mau berbicara.

”Bayi usia 4-6 bulan sudah mulai mengeluarkan suara-suara, meskipun belum jelas,” ujar Mellisa Essenburg, MS, CC, SLP, speech pathologist dari San Diego.
Bayi usia 0-12 bulan memiliki tahap-tahap berbicara hingga ia bisa mengucapkan kata-kata yang memiliki arti. Hal ini dimulai pada usia 0-3 bulan, ketika bayi mengeluarkan suara seperti menangis dan tertawa. Usia 4-6 bulan, bayi akan mengeluarkan suara dua kata yang diulang-ulang seperti dadada, bababa, papapa. Usia 6-9 bulan, bayi akan mengabungkan beberapa kata.
Kemampuannya berbicara akan lebih meningkat di usia 10-12 bulan. Dia akan mulai menirukan kata-kata yang Anda ucapkan namun tidak persis sama. Kemampuannya berbicara akan semakin baik pada usia 10-18 bulan.
Berikut cara menggugah si kecil mau berbicara:
1. Tanggapi ocehannya
Si kecil mengeluarkan suara? Jangan ragu untuk menanggapinya. Anda bisa berpura-pura menanyakan maksud ocehannya sambil tertawa atau tersenyum. Perlihatkan wajah bahagia Anda, kemudian lihat reaksinya.
2. Tunjukkan ekspresi
Ajak ia untuk bercanda sambil berbicara. Contohnya dengan menggelitik, mencium, atau menggenggam tangannya. Bicarakan semua hal yang berhubungan dengan diri Anda atau si kecil. Contohnya, “Wah, adik pintar ya. Minum susunya sampai habis!”
3. Datangi saat menangis
Jangan berdiam diri saat melihat si kecil menangis. Datangi, Tatap matanya, lalu langsung tanyakan, misalnya, “Kenapa menangis, Nak?” Cara ini akan membuat si kecil paham, bahwa ketika ia menangis, ibu akan bertanya padanya. Maka, ia pun harus merespons dengan jawaban.
4. Ajak mengobrol
Ceritakan kegiatan yang sedang atau akan Anda lakukan bersamanya. Saat mengganti popoknya atau akan mengajaknya makan, katakan, misalnya, “Ayo kita ganti popok ya, sayang, udah basah nih”. Lalu ceritakan apa yang Anda sedang lakukan bersamanya. Si kecil akan makin terbiasa, dan mengerti saat Anda mengajaknya berbicara.
5. Menyanyi untuknya
Nyanyikan lagu saat Anda menggendongnya, mengajak tidur, atau mandi. Lakukan terus-menerus supaya si kecil terbiasa mendengarnya. Selanjutnya, ia akan mencoba menirukan Anda.
6. Membacakan cerita
Biasakan membacakan cerita sebelum si kecil tertidur. Otaknya akan merespons dan menyimpannya ke dalam memori saat ia tertidur. Pangku si kecil, perlihatkan buku cerita berwarna-warni, dan bacakan cerita. Si kecil akan langsung merespons dengan menunjuk buku yang Anda pegang.
7. Ceritakan kegiatannya
Contohnya saat ia menggenggam makanan, boneka, atau mainan lainnya. Sebutkan apa yang sedang dipegangnya, supaya ia belajar mengenali benda-benda. “Pegang apa itu, Nak? Boneka, ya?”. Atau, “Ibu bikin bubur nih, buat adik. Enak, kan?” Lakukan hal yang sama saat ia sedang melakukan aktivitasnya.
8. Terus mengulang
Lakukan terus hal-hal yang melibatkan Anda berdua dalam setiap kesempatan. Saat ia mulai menirukan suara Anda, ulangi juga kata-kata tersebut.

Rabu, 18 Mei 2011

8 Kecerdasan Bekal Kesuksesan Anak

Selama ini tingkat intelegensia menjadi bagian terpenting dalam perkembangan seseorang. Jika seseorang memiliki orangtua yang cerdas kelak anak mewarisinya. Sebaliknya, jika orangtua berenang di tempat dangkal kemungkinan anak tidak berkesempatan menyelam lebih dalam. Asumsi tradisional ini menganggap potesi kecerdasan inteligensia terbatas pada saat anak lahir. Kemudian lahirlah pandangan modern terhadap intelegensia berdasarkan kapasitas otak seseorang. Artinya, anak akan belajar dari pengalaman jika orangtua memfasilitasi anak yang kelak berdampak besar bagi intelegensia dan potensinya.
Dikutip dari artikel Kagan online magazine berjudul Raising Smarter Children Develop Your Child’s Many Ways Of Being Smart yang ditulis oleh duo bersaudara, Dr Spencer Kagan dan Miguel Kagan, mengatakan bahwa ada transformasi pemahaman mengenai kecerdasan anak. Asumsi tradisional tentang kecerdasan adalah ketika anak lahir dianugerahi tingkat inteligensia tertentu yang kemudian dianggap sebagai harga mati. Dalam artian anak cerdas adalah pemberian tuhan namun tidak bisa diupayaakan.
Dr. Howard Gardner, seorang psikologi dari Universitas Harvard, AS, mengemukakan teorinya bahwa kecerdasan tidak terpatri di tingkat tertentu dan terbatas saat seseorang lahir. ’’Setiap orang mengembangkan kecerdasan dengan beragam cara yang dikenal dengan multiple intelligence,’’ katanya. Seperti, Mozart adalah pemusik jenius, seorang komposer sekaligus symphonies yang menjadi salah satu contoh pemilik kecerdasan musikal. Sedangkan, Einstein adalah salah satu ilmuwan dunia yang memiliki
kecerdasan logika dan matematika. Apakah Einstein lebih cerdas dibanding Mozart ? Jika ditilik dari teori multiple inteligensia, Einstein dan Mozart sama-sama cerdas tapi berbeda bidang. Jadi anak Anda pun berkesempatan mengembangkan kecerdasannya di berbagai bidang.
Gardner menemukan delapan kecerdasan, yaitu cerdas bahasa, cerdas logika/matematika, cerdas visual-spasial, cerdas musik, cerdas gerak, cerdas alam, cerdas sosial, dan cerdas diri. Setiap orang berpotensi memilikinya, namun perkembangannya berbeda-beda.
Selama bertahun-tahun, pendidik mengembangkan arahan strategi agar kegiatan belajar makin menarik. Sekolah mengadopsi mulitiple Intelligence melalui laporan pendekatan akademik tes yang mencakup area kecerdasan seni, musik, edukasi fisik, hubungan sosial, pemahaman akan diri sendiri, dan menyukai alam. Sebagai orangtua, Anda mungkin bertanya, bagaimana cara membantu anak belajar? Jawabannya banyak! Anda bisa membantu anak tumbuh lebih cerdas dengan mengeksplorasi anak dengan beragam aktivitas.

Ada beberapa ide untuk mengembangkan kecerdasan balita yang bisa Anda terapkan di rumah :
1. Bahasa/Linguistik: Membacakan cerita, Mengembangkan perbendaharaan kata dengan bermain kata
2. Logika/Matematika: Mengajak anak berhitung, Bermain angka, Gunakan konsep penambahan dan p engurangan sederhana
3. Visual/Spasial: Menggambarkan untuk bayi Anda, Berbagi gambar dan visual, Izinkan bayi bermain warna
4. Musikal/Ritme:  Menyanyikan lagu, Bermain musik, Perkenalkan anak dengan beragam bunyi dan musik
5. Gerak Tubuh/ Kinestetik: menyentuh dan menggambarkan bagian-bagian tubuh, Ajak anak bermain dengan mainan dan balok-balok
6. Naturalis: Bawa anak keluar rumah melihat pepohonan dan tetumbuhan, Pelihara binatang piaraan, Mengunjungi kebun binatang dan taman
7.Interpersonal: Biarkan bayi Anda berinteraksi dengan bayi lain, Bermain ‘pura-pura’
8. Intrapersonal: Berikan bayi waktu untuk sendiri atau di keheningan
Memperkaya otak anak dipaparkan oleh Kagan dalam sebuah studi klasik. Beberapa Ilmuwan menguji beberapa tikus percobaan yang tumbuh di lingkungan berbeda. Tikus A tumbuh di lingkungan yang dipenuhi mainan, sedangkan tikus B tidak. Tebak tikus mana yang lebih pintar? Yaitu tikus A. Tikus A bisa keluar dari lorong teka teki lebih cepat dibandingkan tikus B. Para ahli juga menemukan perubahan pada struktur otaknya. Otak berkembang secara penuh dan lebih berbobot pada tikus A. Baru-baru ini, penelitian tersebut diujikan kepada hewan primata yang memiliki konsep saraf plasticity mirip manusia. Kesimpulannya, seseorang tumbuh dengan perkembangan otak lebih baik jika difasilitasi beragam pengalaman.
Psikolog Elly Risma Musa mengatakan, kecerdasan anak tidak hanya bersumber dari pemenuhan nutrisi yang seimbang, tetapi juga disertai pemberian stimulasi pada anak. Anak yang cerewet, kritis, dan senang bercerita, apabila mendapat asahan yang tepat akan memiliki kepintaran verbal linguistik, yaitu anak yang mampu berinteraksi dan meyakinkan orang di sekitarnya. “Anak seperti ini siapa tahu kelak menjad orator ulung seperti Bung Karno,” ujar Elly yang juga Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati ini.
Sangat disayangkan, tambahnya, jika orang tua terlalu memaksakan keinginan mereka pada anak. Sehingga anak tidak dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal. “Jangan sampai anda sebagai orang tua terlambat mengetahui potensi anak, karena dapat menghambat kecerdasannya kelak,” ujar Elly. Usia batita dan balita merupakan golden period bagi perkembangan otaknya. Saat berumur 10 tahun kemampuan otak anak sudah terbentuk dengan baik.
Memperkaya lingkungan rumah
Agar anak berkesempatan mengembangkan potensi kecerdasannya, maka lingkungan rumah perlu disulap dengan beragam kegiatan dan fasiltas. Bagian terpenting untuk menemani anak belajar adalah kehadiran Anda. Ada beberapa ide yang bisa Anda lakukan bersama si kecil:
Bahasa/Linguistik
• Cinta Buku. salah satu kegiatan yang disukai anak adalah kegiatan membaca. Untuk anak usia prasekolah mulai perkenalkan dengan buku cerita dongeng, puisi sederhana, bacaan untuk anak. Saat usia sekolah, perkenalkan anak dengan majalah anak, novel, komik, dan ensiklopedi.
• Televisi. Percaya atau tidak, tv bisa mendemontrasikan banyak hal melalui acara program edukasi, atau DVD. Atau anak belajar membaca melalui teks dialog yang ditampilkan di layar tv.
• Banyak menulis. Dukung kegiatan menulis dengan menyediakan kertas, bolpoin, pensil dan krayon.
Logika/Matematika 
• Sediakan instrumen matematik. Biarkan anak bereksplorasi dengan kompas, penggaris, skala, gelas ukur.
• Gunakan peralatan. Alat berhubungan dengan kecerdasan logika dan gerak tubuh anak. Setiap peralatan memerlukan pemahaman logika untuk menggunakannya. Dorong anak untuk belajar menggunakan banyak peralatan.
• Komputer. Anak Anda pasti suka memencet tombol atau bermain games. Pada anak usia sekolah sudah mulai bisa diajarkan membuat database, surfing website atau belajar Microsoft. Yang bisa membangun
pengaturan logika dan struktur anak.
Visual/Spasial
• Sediakan alat kerajinan tangan. Sangat menyenangkan jika anak berhasil membuat sesuatu dengan kertas-kertas, krayon, gunting dan lem.
• Sediakan alat melukis. Mulai ajari anak melukis dengan menggunakan jari-jarinya lalu lanjut menggunakan cat air, akrilik dan cat minyak.
• Menggunakan Software. Bisa juga anak menggambar dan membuat ilustrasi menggunakan komputer.

Musikal/Ritme
•Pemain musik. Studi menemukan anak yang mendengarkan musik Mozart selama 10 menit, akan lebih baik di kegiatan spasial. Penelitian menunjukkan beberapa jenis musik tertentu dapat meningkatkan kecerdasan anak.
• Alat Instrumen. Penelitian membuktikan bermain musik tak hanya meningkatkan kecerdasan musik anak tapi juga bisa mengembangkan bagian otak.
• Berkaraoke. Fasilitasi anak dengan beragam lagu yang bisa dinyanyikannya.
Gerak tubuh/Kinestetik
• Lemari Kostum. Kembangkan imajinasi anak dengan bermain sebagai aktor menggunakan kostum dan make up.
• Peralatan Olahraga. Peralatan olahraga dan permainan membantu mengembangkan kordinasi mata-tangan dan mengembangkan kemampuan gerak motorik anak. Aktivitas fisik juga berperan dalam perkembangan cerebellum, bagian otak yang mengatur beberapa fungsi motorik juga daya ingat, konsentrasi, persepsi spasial, dan bahasa.
• Aktivitas gerak motorik halus. Mengembangkan kemampuan motorik halusnya dengan kegiatan menjahit, merajut, menggambar atau kegiatan lain yang menggunakan keterampilan jari tangan dan kakinya.

Naturalis / alam 

• Kolam ikan. Coba masukan tangannya ke kolam ikan atau akuarium. Hati-hati jangan sampai anak measukan tangannya ke mulut.
• Binatang piaraan. Memelihara binatang piaraan merupakan cara terbaik anak berinteraksi dengan hewan. Anak belajar kebiasaan, karakteristik, dan perbedaan sifat hewan.
• Kebun. Sekuntum bunga atau kebun tanaman bisa dijadikan perjalanan seru. Anda juga bisa mengajarkan tanaman di pot.
• Peralatan observasi. Melihat dengan teleskop atau menggunakan gelas ukur atau mikroskop untuk menganalisa.
Intrapersonal
• Hargai privasi anak. Kadang anak memerlukan waktu untuk sendiri tanpa berinteraksi atau gangguan dari luar. Anak hanya ingin mendengarkan pikirannya sendiri. Apakah ada tempat anak merenung di rumah? Mungkin di kamar atau kebun.
• Hobby station. Dukung anak menyalurkan hobinya. Anda bisa mengikut sertakan anak ke kelas fotografi, jurnalis, vokal. Musik, menggambar, untuk mengembangkan kecerdasan intrapersonal anak.
• Area belajar. Sebuah area anak bisa menikmati waktunya dengan menulis diari atau menempatkan barang-barang pribadinya.
Melihat beberapa tips di atas mungkin banyak dari Anda yang sudah menerapkannya. Artinya, anak hidup di lingkungan belajar yang kondusif. Jika perhatian Anda luput pada suatu hal, Anda bisa menyeimbangkannya dengan memberi investasi berikutnya untuk mengembangkan edukasi dan otak anak. Ingat elemen terpenting meningkatkan kecerdasan anak adalah apa yang anak dan Anda lakukan bersama bukan hanya apa yang mereka dapat.
Sumber : 

Selasa, 19 April 2011

Pedoman Praktis Melatih Bayi dan Anak Berbicara

Perkembangan berbicara bayi dan anak

  • Sekitar umur 7 – 8 bulan bayi mulai bisa bersuara satu suku kata, misalnya: ma atau pa atau ta, atau da
  • Sekitar umur 8 – 10 bulan bisa bersuara bersambung, misalnya: ma-ma-ma-ma, pa-pa-pa-pa, da-da-da-da-, ta-ta-ta-ta
  • Sekitar umur 11 – 13 bulan mulai bisa memanggil : mama !, papa !
  • Sekitar umur 13 – 15 bulan mulai bisa mengucapkan 1 kata, misal: mimik, minum, pipis
  • Sekitar umur 15 – 17 bulan mulai bisa mengucapkan 2 kata
  • Sekitar umur 16 – 18 bulan mulai bisa mengucapkan 3 kata
  • Sekitar umur 19 – 22 bulan mulai bisa mengucapkan 6 kata
  • Sekitar umur 23 – 26 bulan mulai bisa menggabungkan beberapa kata misal: mimik cucu
  • Sekitar umur 24 – 28 bulan mulai bisa menyebutkan nama benda, gambar
  • Sekitar umur 26 – 35 bulan, bicaranya 50 % dapat dimengerti orang lain
(Sumber : Denver II, Frankenburg WK dkk, 1990)
Supaya tidak terlambat berbicara, latihlah sejak bayi
Bayi sejak lahir sudah bisa mendengar dan mengerti suara manusia, terutama suara ibunya. Walaupun bayi belum bisa menjawab dengan kata-kata tetapi bayi bisa menyatakan perasaannya dengan : senyuman, gerakan bibir, bersuara, berteriak, menggerakkan tangan kaki, kepala atau dengan menangis. Dengan latihan setiap hari sejak bayi, lama kelamaan bayi dan anak dapat menjawab dengan kata-kata dan kalimat. Latihan ini sekaligus merangsang perkembangan emosi, sosial, dan perkembangan kecerdasannya. Supaya bayi atau anak anda tidak terlambat berbicara, lakukan metode ini setiap hari, ketika anda berada tidak jauh dari bayi anda.

Melatih Bayi dan Anak Berbicara
I. Berbicaralah kepada bayi / anak sebanyak mungkin dan sesering mungkin, dengan penuh kasih sayang, walaupun ia belum bisa menjawab
Bertanya pada bayi / anak.. Contoh : Adik haus, ya ? Gardi lapar, ya ?. Elta mau susu, lagi ? Ini gambar apa ? Ini boneka apa ? Ini warnanya apa ? Ini namanya siapa ?
Komentar terhadap perasaan bayi / anak . Contoh : Kasihan, adik rewel kepanasan, ya ?. Nah sekarang dikipasin ya ? Ooo, kasihan, adik rewel gatal digigit nyamuk, ya ? Jatuh ya ? Sakit , ya ? Sini di obatin !
Menyatakan perasaan ibu / ayah . Contoh : Aduh, mama kangen banget deh sama adik. Tadi mama di kantor ingat terus sama adik. Mmmh , mama sayang deh sama adik.
Komentar keadaan bayi / anak.. Contoh : Aduh pipi Ade tembem ! Wow, Rama matanya besar banget ! Wah, kepala Gardi botak ! Ai, ai, Elta buang air besar lagi !
Komentar perilaku bayi / anak Contoh : Wah, Rini sudah bisa duduk! Eeee, Tono sudah bisa berdiri ? Ai, ai, Ari sudah bisa duduk ! Wah, adik sudah bisa jalan !
Bercerita tentang benda-benda di sekitar bayi / anak : Contoh : Lihat nih. Ini namanya bantal. Warnanya merah muda, ada gambar Winnie the Pooh. Adik tahu nggak Winni the Pooh ? belum tahu ? Winni The Pooh itu beruang yang lucu dan cerdik. Nanti kalau sudah gede pasti tahu deh. Yang ini namanya boneka Teletubies. Warnanya merah. Yang ini warnanya hijau, yang itu ungu. Nih, coba di peluk.
Bercerita tentang kegiatan yang sedang dilakukan pada bayi / anak
Contoh : Adik dimandiin dulu, ya ? Pakai air hangat, pakai sabun, biar bersih, biar kumannya hilang, biar kulitnya bagus sepeti bintang film. Sekarang dihandukin biar kering, tidak kedinginan. Sudaaaaah selesai. Sekarang pakai pampers, pakai baju, dibedakin dulu, biar kulitnya halus, wangi.. Nah, selesai. Enak, kan ? Asyik, kan ? Habis ini minum ASI terus tidur, ya ? Mama mau masak, ya ?
Bercerita tentang kegiatan yang sedang dilakukan ibu : Contoh : Mama sekarang mau bikin susu buat adik sebentar , ya ? Nih, susunyal 3 takar, ditambah air 90 cc, terus dikocok-kocok. Kepanasan nggak ? Enggak kok.
Nah, siap deh.
II. Dengarkan suara bayi / anak, berikan jawaban atau pujian
Ketika bayi / anak bersuara atau berbicara (walaupun tidak jelas), segera kita menoleh dan memandang ke arah bayi dan mendengarkan suara bayi / anak seolah-olah kita mengerti maksudnya. Pandang matanya, tirukan suaranya, berikan jawaban atau pujian, seolah-olah bayi mengerti jawaban kita. Contoh : Ta-ta-ta-ta ? Ma-ma-ma-ma ? Kenapa, sayang ? Minta susu ? Mau poop ?
III. Bermain sambil berbicara
Ciluk – ba. Ibu mengucapkan ciluuuuuukk (muka ditutup bantal) beberapa detik kemudian bantal ditarik kesamping sambil ibu mengucapkan : baaaaaa !!!. Kapal terbang. Nih ada kapal terbang sedang terbang. Ngngngngngng. Ada musuh, kapal terbangnya menembak musuh … dor .. dor .. dor. Kapal terbangnya turun ke muka bayi terus keperutnya. Boneka, dimainkan seolah-olah ia berbicara kepada bayi / anak Menyebutkan nama mainan, nama makanan, anggota badan (tangan, kaki, jari-jari, mulut, mata, telinga, hidung dll.)
IV. Bernyanyi sambil bermain
Pok-ambai-ambai, belalang kupu-kupu, tepok biar ramai, pagi-pagi minum cucu. Cecak-cecak didinding, diam-diam merayap, datang seekor lalat, hap ! lalu ditangkap. Dua mata saya, hidung saya satu, (sambil menunjuk ke mata, hidung dst.) Putarkan kaset lagu anak-anak, ikut bernyanyi, sambil tepuk tangan, goyang kepala dll.
V. Membacakan cerita sambil menunjukkan gambar-gambar
Bacakan cerita singkat dari buku cerita anak yang bergambar. Tunjukkan gambar tokoh-tokoh yang ada dalam cerita (binatang, benda-benda, manusia). Tanyakan kembali apa nama benda tersebut, apa gunanya, siapa nama tokohTunjukkan gambar-gambar di dalam majalah.
VI. Menonton TV bersama anak sambil menyebutkan nama-nama benda, tokoh atau kejadian yang terlihat di TV
Itu mobil, yang itu kapal, itu sepeda. Itu kucing, di sebelahnya ada tikus dan anjing. Kucing melompat, tikus lari, anjing duduk.
VII. Banyak berbicara sepanjang jalan ketika bepergian (ke pertokoan, rumah keluarga dll)
Tunjuklah benda-benda atau kejadian sambil menyebutkan dengan kata-kata berulang-ulang. Itu layang-layang sedang terbang, itu kakak sedang menyeberang jalan, itu burung sedang terbang, itu pohon ada bunganya, itu boneka pakai kacamata dll.
VIII. Bermain dengan anak lain yang lebih jelas dan lancar berbicaranya
Ajak bermain dengan anak lain (kakak, tetangga, sepupu) yang sudah lebih jelas berbicaranya, bermain bersama menggunakan boneka, kubus, balok, puzzle, Lego, gambar-gambar, buku bergambar dll.
PERHATIAN
  • Jangan memaksa anak berbicara.
  • Kalau bayi / anak bersuara (walaupun tidak jelas) berikan jawaban, seolah-olah kita mengerti ucapannya
  • Pujilah segera kalau dia berbicara benar.
  • Jangan menyalahkan anak kalau ia salah mengucapkannya
  • Kalau anak sudah bosan sebaiknya beralih ke kegiatan lain
Latihan – latihan ini selain merangsang berbicara sekaligus merangsang perkembangan emosi, sosial, dan perkembangan kognitif (kecerdasan).

Kamis, 24 Maret 2011

Memberikan Rangsangan Kemajuan Pada Anak

Dengan adanya kata-kata pertama, langkah-langkah pertama yang dapat dilakukan oleh anak, maka permainan belajar akan lebih menyenangkan. Beri kesempatan pada anak anda untuk menjelajahi dan belajar tenang dunia dan kemajuannya, dan bentuklah kemajuan fisik, sosial, intelektual dan emosionalnya dengan melakukan beberapa hal berikut :


Bahan-bahan untuk mengembangkan kreatifitas (Creative materials)
Mengambil dan meletakkan mainan (Putting and taking toys)
Memilih bentuk (Shape sorters)
Mainan untuk melatih ketrampilan tangan (Dexterity toys)
Mainan untuk di kamar mandi (Bath toys for water play)
Permainan mengikuti pemimpin (Follow the leader play)
Buku, majalah, dan segala sesuatu yang bergambar (Books, magazines, anything with pictures)
Bahan untuk bermain pura-pura (Materials for pretend play)
Tempat yang aman untuk belajar memanjat (Space safe for supervised climbing)
Lingkungan yang bervariasi (A varied environment)
Pujian (Applause)
Bahan-bahan untuk mengembangkan kreatifitas
Mencoret-coret dengan crayon adalah kegiatan yang sangat memuaskan bagi banyak anak. Rekatkan kertas pada alas meja, lantai, atau alas lainnya agar kertas tidak menggeser ketika dicoreti, dan singkirkan crayon segera setelah crayon disalah-gunakan untuk mencoret bagian yang tidak boleh dicoret atau jika bayi memasukkan crayon ke dalam mulutnya, hal ini akan membantu mereka untuk menggunakannya dengan benar. Jangan biarkan mereka menggunakan pensil dan pena, kecuali di bawah pengawasan yang ketat, karena ujung yang tajam dapat membahayakan. Melukis dengan menggunakan jari dapat menyenangkan bagi beberapa anak, tetapi ada juga anak yang merasa tidak senang dengan tangan yang ‘terkotori’ cat. Meskipun cuci tangan dapat menunjukkan pada anak bahwa kotor tersebut hanya bersifat sementara, beberapa anak tetap tidak mau menggunakan bahan tersebut. Mainan yang bermusik juga dapat menyenangkan. Bayi juga dapat belajar meningkatkan kemampuan musiknya, misalnya dengan memukulkan sendok kayu atau logam pada panci, jika anda memberi contoh terlebih dulu.
Mengambil dan meletakkan mainan
Bayi umumnya senang sekali mengeluarkan dan memasukkan mainan. Meskipun ketrampilan mengeluarkan barang akan terjadi lebih dulu daripada memasukkannya. Anda dapat membeli mainan khusus yang dapat dikeluarkan dan dimasukkan, tetapi anda juga dapat menggunakan kotak bekas yang kosong, sendok kayu, cangkir plastik atau kertas, dan lap. Isi sebuah keranjang dengan berbagai benda kecil (tetapi tidak terlalu kecil sehingga dapat masuk ke mulut bayi dan membuat bayi tersedak). Bersiaplah bahwa pada mulanya anda sendiri yang harus sering memasukkan kembali benda-benda tersebut, sampai bayi sudah lebih mahir. Anda juga dapat menggunakan pasir dan air untuk latihan menuang - bayi biasanya menyukai kedua bahan ini, tetapi diperlukan pengawasan yang ketat.
 
Memilih bentuk
Biasanya lama sebelum bayi dapat mengatakan lingkaran, segiempat atau segitiga, mereka sudah belajar mengenal bentuk-bentuk ini dan dapat meletakkan mereka ke tempat/lubang yang tepat pada mainan pemilihan bentuk. Mainan jenis ini juga melatih ketrampilan tangan, dan warna. Tetapi, perlu disadari bahwa bayi perlu banyak diajari dan diberi contoh sebelum ia dapat menguasai mainan pemilihan bentuk ini.
Mainan untuk melatih ketrampilan tangan
Mainan yang perlu diputar, ditekan, ditarik, didorong, akan membantu anak untuk menggunakan tangannya dalam berbagai cara. Orangtua perlu menunjukkan terlebih dulu sebelum anak dapat menangani mainan ini, tetapi sekali anak sudah dapat menguasainya, maka mainan jenis ini dapat mengasyikkan anak selama berjam-jam.
Mainan untuk di kamar mandi
Mainan ini mengajari banyak konsep dan membuat gembira dalam bermain air tanpa harus membasahi seluruh lantai atau meja-kursi. Bak mandi juga merupakan tempat yang baik untuk bermain gelembung, tetapi untuk sementara anda sendirilah yang harus membuatkan gelembung-gelembung ini.
Permainan mengikuti pemimpin
Ayah mulai bertepuk tangan, ibu mengikuti. Dan bayi diajak untuk mengikuti. Ibu melipat tangan, ayah juga mengikuti. Tidak lama kemudian, bayi akan mengikuti si pemimpin tanpa harus dipaksa dan akhirnya justru akan sanggup untuk memimpin permainan.
Buku, majalah, dan segala sesuatu yang bergambar
Anda tentu tidak dapat menghadirkan kuda, gajah dan singa hidup di ruang keluarga anda, tetapi anda dapat menghadirkan mereka semua melalui buku atau majalah. Baca dan lihatlah buku bersama bayi anda beberapa kali sehari. Setiap kali mungkin hanya sebentar saja, mungkin tidak lebih dari beberapa minit, karena kemampuan pemusatan perhatian anak anda masih singkat, tetapi hal ini akan membangun kegemarannya untuk membaca kelak.
Bahan untuk bermain pura-pura
Mainan piring, peralatan dapur, makanan, rumah, truk dan mobil, topi, sepatu, bantalan kursi, hampir segala sesuatu dapat secara ajaib diubah dalam imajinasi anak menjadi dunia menurut khayalnya. Permainan seperti ini dapat mengembangkan kemampuan sosialnya, juga koordinasi otot motorik kecilnya (melepas dan mengenakan baju, mengocok telur atau memasak sop), kreatifitas dan imajinasinya.
Tempat yang aman untuk belajar memanjat
Bayi biasanya sangat senang menaiki tangga loteng rumah (jika anda tidak dapat mengawasinya, maka mutlak diperlukan pagar pengaman), menaik tangga luncuran (tetaplah berada di belakangnya), menaiki kursi atau tempat tidur. Biarkan mereka melakukannya, tetapi berdirilah di dekatnya dan selalu siap untuk menyelamatkan jika diperlukan.
Lingkungan yang bervariasi
Bayi yang tidak pernah melihat apapun kecuali suasana di dalam rumahnya, interior mobilnya atau toko yang sama, akan menjadi bayi yang sangat bosan. Ada dunia luas yang menakjubkan di luar pintu rumah, dan bayi anda harus melihatnya setiap hari. Bahkan pergi keluar pada saat hujan, dapat merupakan pengalaman belajar. Ajak bayi berkeliling taman bermain dan area yang sibuk di mana banyak orang untuk dilihat.
Pujian
Pujilah bayi anda ketika ia berhasil menguasai suatu ketrampilan. Keberhasilan, selain memuaskan, seringkali juga akan lebih berarti jika disertai pengakuan dari orangtuanya.

Jumat, 04 Maret 2011

Bayi Boleh Nonton TV?

Sayangnya, penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan dalam Journal of Pediatrics tidak menyetujui klaim para penghibur bayi ini. Menurut Frederic Zimmerman dari University of Washington yang menjadi kepala tim peneliti, justru untuk setiap 4 jam yang dilewatkan dalam sehari untuk menonton video dan DVD bayi oleh bayi yang berusia 8-16 bulan, akan mengurangi kemampuan anak memahami 6-8 kata dibanding bayi yang tidak menonton.
   
Masalahnya bukan terletak pada isi video yang sebetulnya cukup bagus, namun pada cara otak bayi berkembang. Otak bayi berkembang dengan sangat sensitif. Karena itu, sangat penting untuk bayi berkembang lewat stimulasi yang interaktif – yang bisa berubah sesuai dengan reaksi anak. Ini hanya bisa disediakan oleh orangtua atau pengasuhnya, bukan oleh TV yang cuma bisa menyediakan tayangan monoton.
   
Kelly Ross, MD, dokter anak dari Missouri yang juga ibu dari anak kembar tiga menegaskan, bayi belajar melalui gerakan dan eksplorasi langsung, bukan lewat pengamatan pasif. Begitu pula menurut Samantha Maplethorpe, MD, dokter keluarga dari Washington yang juga ibu tiga anak. Katanya, TV sebetulnya tidak memberikan keuntungan apa pun dan malah mencuri waktu belajar.
   
Memang sih, jadi ada waktu-waktu tenang jika bayi bisa menonton TV. Ini juga disetujui oleh Leslie Gavin, PhD, psikolog anak dari Florida yang juga ibu empat anak. Namun menurutnya, menonton tetap bukanlah cara belajar yang baik buat bayi kita.
   
Rasanya, mau tak mau kita harus kembali pada saran Academy of American Pediatrics, anak usia 0-2 tahun tidak disarankan menonton sama sekali. Ingat, tidak ada bukti yang jelas bahwa bayi mendapat manfaat dari DVD dan video, tapi ada bukti cukup bayi justru mengalami kerugian. Ini yang harus kita hindarkan.  

Menurut anda bagaimana ????