Tampilkan postingan dengan label cerita islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita islami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 April 2011

Rusa Dan Tanduk Barunya

Di sebuah hutan belantara hiduplah sekelompok Rusa yang sedang bermain dengan senangnya. Mereka becanda sambil menari-nari dan menyanyi. Ada yang berlari kesana-kemari ada juga yang meloncat-loncat dan mengoyang-goyangkan kepalanya, saking senangnya. Tapi di tengah kesenagan itu ada seekor rusa jantan yang tampaknya lagi bersedih.

“Nala, keliatannya kamu sedang bersedih, ada apa Nala apa yang membuatmu bersedih?” tanya Nana, saudaranya.
Nala hanya menggeleng. Tiba-tiba dia berbalik arah sambil menagis. Anak rusa itu masuk ke dalam hutan. Nana hanya menggeleng-geleng kan kepalanya.
“Ada apa dengan dia?” tanya Nana dalam hati.
Sementara itu Nala, anak rusa jantan itu semakin masuk ke dalam hutan. Sepanjang perjalanan ia hanya menagis menyesali hidupnya. Bertanduk sebelah membuatnya tidak percaya diri. Beberapa hari yang lalu ia becanda bersama teman-temannya rusa jantan, sambil beradu tanduk. Tanpa ia sadari tanduknya yang satu patah. Dan kini ia hanya memiliki satu tanduk saja.
Tiba-tiba di jalan ia bertemu dengan burung Gelatik. Ia bertanya “Hai kenapa tandukmu tinggal satu?”
Rusa dan Gelatik memang bersahabat. Gelatik sering membantu mencari kutu di tubuh rusa.
“Aku sangat sedih sahabatku. Waktu becanda bersama teman-teman kemaren, tiba-tiba tandukku patah satu!” katanya sambil bersedih.
“Padahal aku ingin seperti kakekku yang mempunyai tanduk yang gagah dan kuat! Biar bisa melindungi semua saudara-saudaraku!”
Usai berkata demikian iapun berjalan lagi. Sesampainya di dekat sebuah danau ia berkaca pada air danau itu. Ia merasa sangat sedih melihat tanduknya yang tinggal satu, ia merasa sudah tidak punya kekuatan lagi, dan merasa sudah tidak gagah lagi.
“Aku malu !” rintihnya lirih.
“Kamu kenapa bersedih, Rusa?” tanya burung Kolibri yang melintas di dekatnya.
Si rusa mendongak ke atas dan ia hanya menggeleng. Ia ngak mau bercerita tentang kesedihannya.
Tapi Kolibri adalah sahabatnya yang sangat perhatian. Ia tau tentang kesedihan temannya.
“Aku tahu kau sedang bersedih,” ujar Kolibri.
Rusa memandang ke arah temannya itu.
“Kau tak perlu sedih hanya karena tandukmu tanggal satu. Itu sering terjadi kok pada rusa remaja seperti sepertimu. Aku yakin besok tandukmu akan tumbuh lagi dan lebih kuat dan gagah!” kata Kolibri menghiburnya.
Mendengar perkataan Kolibri ini membuat Rusa berbunga-bunga. Dan ia pun langsung mengembangkan senyumnya yang manis.
“Benarkah? Dari mana kau tahu itu?
“Begini, kau tahu kalau tanduk itu seperti kuku. Apabila patah maka akan tumbuh lagi. Ia akan digantikan dengan yang baru yang lebih besar dan kuat!”
“Terima kasi atas penjelasannya,” ujar Rusa sambil tersenyum.
“Sama-sama. Nah sekarang kembalilah ke keluargamu. Aku yakin, mereka pasti lebih paham masalah ini. Mereka tak akan pernah mengejekmu!” kata Kolibri.
Dengan langkah mantap akhirnya Nala, Rusa jantan itu kembali ketemn-temannya. Sepanjang perjalanan ia selalu benyanyi-nyanyi. Beberapa selokan dilompatinya dengan gesit.
“Hei Nala, dari mana kau?” tanya Nana, saudaranya.
Nala menoleh sebentar lalu berjalan lagi sambil bersenandung riang. Sementara itu Nana hanya mengernyit.
“Sungguh aneh, tadi dia bersedih. Tapi sebentar kemudian dia sudah berubah. Ada ya?” tanya Nana dalam hati.
“Teman-teman bolehkah aku bermain dengan kalian?” tanya Nala pada teman-temannya yang masih asyik bermain.
“Kenapa tidak. Dengan tanduknya yang hanya sebelah itu kau tetap bisa bergoyang lebih indah,” ujar si Boggi.
Boggi adalah Rusa sang ketua orkes kendang di hutan itu. Gayanya asyik, tapi sayang suaranya memekakkan telinga. Tapi Boggi tidak pernah minder, itulah kelebihannya. Tuhan memeng memberi masing-masing hewan kelebihan dan kekurangan untuk saling melengkapi.
Mendengar gurauan si Boggi, Nala hanya tersenyum. Kita memang tidak boleh sedih karena kehilangan sesuatu. Sebab, mungkin setelah ini kita akan mendapatkan sesuatu yang baru, yang lebih baik. Dan Nala yakin akan hal itu.
“Hikmah yang kita bisa ambil dari dongeg ini adalah kalau kita kehilangan salah satu benda yang berharga milik kita, janganlah bersedih kita harus terima dengan lapang dada.
Dengan percaya diri kita bisa memandang hidup dengan lebih baik.”
Sumber :  http://balitasmart.com/dongeng-balita/rusa-dan-tanduk-barunya/

Kamis, 31 Maret 2011

TEMAN KECIL ALI

Ali dan keluarganya pergi ke desa di pagi hari pada hari minggu untuk piknik. Ibunya mengatur perlengkapan piknik di atas tanah.
Ibunya telah memenuhi keranjang dengan wortel, kesukaan Ali. Langsung saja, Ali duduk di bawah pohon. Dia membaca buku dan memakan wortel. Dia melihat seekor kelinci mendekati keranjang. Ali duduk perlahan, mencoba untuk tidak menakuti sang kelinci kecil.
“Kamu pasti lapar, kelinci kecil,” katanya.
“Memang benar. Aku sangat suka wortel,” sang kelinci setuju.
“Mari,” kata Ali: “Ayo makan wortel‐wortel ini
bersama‐sama dan berbincang‐bincang. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu…”

Sang kelinci mulai berbicara: Kami para kelinci tinggal di sarang yang disebut lubang kelinci, yang kami gali di bawah tanah. Dan wortel sangat cocok dengan kehidupan kami di bawah tanah karena mereka tumbuh di dalam tanah. Jadi kami dapat menemukannya dengan mudah. Wortel adalah makanan kesukaan kami, dan Allah telah menciptakan wortel sedemikian sehingga kami tidak kesulitan menemukannya. Karena Allah menghendaki seperti ini, kami tidak mempunyai masalah dalam mencari makanan. Ini adalah salah satu
keajaiban ciptaan‐Nya.”

Ali berpikir betapa Allah telah menciptakan segalanya dengan cara yang tepat untuk digunakan para hewan. Dia teringat akan jeruk yang dia makan di musim dingin. Dia mengagumi bagaimana jeruk itu dikupas dari kulitnya dalam bentuk terpotong‐potong
sehingga dia dapat dengan meudah memakannya. Apabila jeruk itu tercipta dalam bentuk
yang berbeda, pikirnya, mungkin akan sulit dimakan. Jeruk mengandung banyak Vitamin C, yang sangat bermanfaat untuk kesehatan, dan Ali bersyukur kepada Allah Yang menciptakan jeruk dalam keadaan siap terpotong dan dikemas sedemikian rupa sehingga orang mudah memakannya. Dan, tentu saja, merupakan nikmat lainnya bahwa kita memiliki gigi untuk memakan jeruk. Allah juga memberikan kelinci gigi depan untuk memotong wortel dengannya.

“Baiklah,” kata Ali, “Kemampuan istimewa apa lagi yang telah diberikan Allah Yang
Mahakuasa kepadamu?”
Sang kelinci menjawab: “Allah telah memberikan setiap makhluk kemampuan untuk mempermudah hidupnya. Ada banyak jenis kelinci dengan kemampuan yang berbeda‐beda di dunia. Misalnya, kelinci yang tinggal di daerah dingin biasanya berbulu putih, supaya
mereka sulit untuk dilihat dan dapat bersembunyi dengan mudah. Kelinci liar seperti aku memiliki kaki dan telinga yang lebih panjang. Kelinci yang tinggal di gurun pasir Amerika memiliki telinga yang besar. Telinga itu membantu kelinci untuk mendinginkan tubuh di panasnya gurun.”

Ali mengangguk: “Setiap orang tahu cerita mengenai kamu dan kura‐kura. Kamu pelari yang cepat, bukan?”
“Ya,” sang kelinci mengangguk. “Kaki belakangku lebih panjang dan lebih kuat dari kaki depanku. Jadi aku dapat berlari secepat 40 sampai 45 mil per jam (60 km/jam dan 70 km/jam) dan terkadang melompat sejauh 20 kaki (6 meter) dalam sekali lompatan.”

“Jadi, bagaimana kamu menemukan rumah bawah tanahmu. Dan saat kamu tidak di sana, adakah kelinci lain yang menempatinya?” Ali ingin tahu.
“Beberapa binatang menandai rumah mereka dengan aroma bau,” teman barunya menjelaskan. “Misalnya, rusa kecil
Afrika meninggalkan zat yang dihasilkan dari kelenjar di bawah mata mereka. Bau dari zat ini menandai wilayah tempat
tinggal mereka. Kami mempunyai kelenjar di taring kami dan kami menandai rumah kami dengan bau dari kelenjar tersebut. Jadi kelinci lain tidak menempatinya dan kami dapat menemukan rumah kami dengan mudah. Tentu saja, ini bukanlah hal yang kami lakukan dengan sendirinya, namun melalui tuntunan Allah.”

“Apakah kamu mempunyai saudara laki‐laki dan perempuan?” tanya Ali.

“Kami para kelinci berkembang biak dengan sangat cepat,” jawab temannya. “Induk kelinci hamil dalam waktu yang sangat singkat, sekitar 28‐33 hari. Induk kelinci melahirkan bayi kelinci yang banyak
dalam sekali waktu. Sebagai contohnya, aku mempunyai 15
saudara… kelinci muda tinggal bersama induknya dalam waktu sekitar satu bulan. Dan kelinci mempunyai sifat lain: kelinci dapat kawin 3‐4 hari setelah dilahirkan.”
Pada saat itu, ayah Ali datang dan bergabung dalam percakapan mereka.
“Aku bahkan tidak mengetahu semua ini, kelinci kecil,” katanya:
“Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu. Betapa mengagumkannya Dia telah menciptakan seluruh jagat raya dan segalanya dan setiap makhluk di dalamnya. Dalam Al Qur'an Allah Yang Mahakuasa berfirman:

(Yang memiliki sifat‐sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. (QS. al‐An’am, 6:102)

Dia telah memberikan kita semua nikmat yang kita miliki agar kita bersyukur kepada‐Nya dan mendapat
pertolongannya di kehidupan dunia ini di mana kita mengalami ujian yang mempersiapkan kita untuk kehidupan yang abadi. Kamu tahu bahwa Allah berfirman kepada kita dalam Al Qur'an bahwa dia telah menciptakan kita hanya untuk menyembah‐Nya. Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah bersyukur atas
semua nikmat, mengatur kehidupan kitas sesuai dengan Al Qur'an dan hidup untuk Allah. Allah berfiman dalam Al Qur'an:

Dan bersabarlah kamu bersama‐sama dengan orang‐orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan‐Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan
janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. al‐Kahfi, 18:28)

“Ayah,” tanya Ali: “Kalau ayah coba lihat ke sekiling kita dan memikirkannya, ada begitu banyak yang harus disyukuri, bukan? Pohon yang kita lihat setiap hari, burung yang terbang, kelinci kecil… kalau ayah melihat itu semua dengan seksama, ayah melihat rancangan sempurna pada setiap ciptaan tersebut. Dan hanya daya kreasi yang sempurna dari Allah Yang Mahakuasa yang dapat melakukannya, bukan? Bila tidak, bagaimana mungkin seekor kelinci menjadi cukup pintar untuk mendapatkan semua keterampilan ini dengan dirinya sendiri?”

“Kamu benar, Ali,” jawab sang kelinci: “Kalau Allah tidak memberikan kami semua kemampuan kami saat Dia menciptakan kami, tidak satupun dari kami memiliki kemampuan untuk mendapatkan itu semua dengan sendirinya.”
Ayah Ali menambahkan: “Ali, bagus sekali kita melakukan piknik ini. Awalnya kamu tidak mau pergi bersama kami, namun kemudian kamu berkenalan dengan kelinci kecil ini dan perbincangan kamu telah membuatmu memikirkan beberapa hal.”

“Ayah benar,” Ali setuju. “Perbincangan kita telah membantu aku untuk melihat Allah dalam setiap hal. Terima kasih, kelinci kecil, aku harus pergi dengan ayahku sekarang. Aku akan menanyakan ibuku apakah
kami masih memiliki wortel lagi, bila iya, akan aku bawakan untukmu. Sampai jumpa lagi, selamat tinggal.”
“Terima kasih, Ali,” kata sang kelinci kecil. “Semoga Allah memberkatimu.”

Rabu, 30 Maret 2011

ANWAR DAN SANG BURUNG KECIL

Ketika Anwar sedang berjalan pulang dari sekolah, hujan mulai turun sangat lebat. Setelah makan malam, sebelum memulai pekerjaan rumahnya, dia bertanya kepada ibunya apakah dia boleh melihat hujan dulu sebentar. Ibu bilang bahwa Anwar boleh melihatnya sebentar saja. Anwar melihat ke jendela dan mulai memperhatikan hujan yang turun di luar. Ada orang berjalan di jalanan dengan memakai payung, dan yang tidak mempunyai payung merapatkan diri mereka ke bangunan. Tak lama kemudian, gumpalan hujan mulai terbentuk di mana‐mana. Mobil yang lewat memuncratkan air ke sisi jalan dan orang berlarian dari pemberhentian agar tidak kebasahan. Anwar berpikir betapa menyenangkannya berada di dalam rumah dan dia harus lebih bersyukur kepada Allah Yang telah memberinya makanan dan rumah yang hangat untuk tinggal. Pada saat itu juga, seekor burung jelatik hinggap di bingkai jendela. Anwar berpikir bahwa burung malang itu pasti sedang mencari tempat berteduh dari hujan, dan dia segera membuka jendela.

“Hai, namaku Anwar,” katanya. “Kamu boleh masuk kalau kamu mau.”
“Terima kasih, Anwar,” kata sang burung kecil. “Aku ingin menunggu di dalam sampai hujan reda.”
“Kamu pasti kedinginan di luar sana,” Anwar ikut merasakan “Aku belum pernah melihat burung sedekat ini sebelumnya. Lihat betapa tipisnya kakimu! Bagaimana kakimu dapat menahan badanmu hingga tegak?”

“Kamu benar, Anwar,” sang jelatik setuju. “Kami burung memiliki kaki yang tipis dibanding tubuh kami. Namun, biarpun demikian, kaki‐kaki tersebut mampu menahan tubuh kami dengan sangat mudah. Ada banyak otot, pembuluh darah dan syaraf didalamnya. Bila kaki kami lebih tipis atau lebih tebal lagi, akan sulit bagi kami untuk terbang.”

“Terbang pasti rasanya sangat menakjubkan,” pikir Anwar. “sayapmu terlalu tipis, juga, namun kalian masih dapat terbang dengannya. Jadi, bagaimana kamu dapat terbang sedemikian jauhnya tanpa merasa lelah?”
“Saat pertama kali kami terbang, kami menggunakan banyak sekali tenaga karena kami harus mendukung berat badan kami pada sayap kami yang tipis,” mulai sang jelatik. “Namun begitu kami di udara, kami menjadi santai dengan mebiarkan tubuh kami terbawa angin. Jadi, karena kami menghabiskan lebih sedikit tenaga dengan cara ini, kami tidak menjadi lelah. Saat angin berhenti bertiup, kami mulai mengepakkan sayap kami lagi. Karena kelebihan yang telah Allah ciptakan untuk kami, kami dapat terbang dalam jarak yang sangat jauh.”

Anwar kemudian bertanya, “Bagaimana kamu dapat melihat sekelilingmu saat sedang terbang?”
Sang jelatik menjelaskan: “Organ indera terbaik kami adalah mata kami. Selain memberikan kemampuan untuk terbang, Allah juga memberikan kami indera penglihatan yang sangat hebat. Jika kami tidak memiliki indera penglihatan bersamaan dengan kemampuan ajaib kami untuk bisa terbang, hal itu sangatlah berbahaya bagi kami. Kami dapat melihat benda yang sangat jauh dengan lebih jelas daripada manusia, dan kami memiliki jangkauan penglihatan yang luas. jadi begitu kami melihat bahaya di depan, kami dapat menyesuaikan arah dan kecepatan terbang kami. Kami tidak dapat memutar mata kami seperti manusia karena mata kami diletakkan pada pencengkramnya. namun kami dapat menggerakkan kepala kami berputar dengan cepat untuk memperluas wilayah penglihatan kami.”

Anwar mengerti: “Jadi, itulah mengapa burung selalu menggerakkan kepala mereka: untuk melihat ke sekeliling mereka. Apakah semua mata burung seperti itu?”
“Burung hantu dan burung‐burung malam hari lainnya memiliki mata yang sangat lebar,” sang jelatik melanjutkan. “Berkat sel khusus dalam mata mereka, mereka dapat melihat dalam keremangan. Karenanya, burung hantu dapat melihat dengan sangat baik untuk berburu di malam hari. Ada juga jenis burung yang disebut burung air; Allah menciptakan mereka agar mereka dapt melihat dengan sangat baik di dalam air. Mereka mencelupkan kepala mereka ke dalam air dan menangkap serangga atau ikan. Allah menciptakan kemampuan ini dalam burung‐burung ini agar mereka dapat melihat dengan jelas di dalam air dan menangkap mangsa mereka.”

“Tidak semua paruh burung sama, nampaknya. Mengapa demikian?” Anwar bertanya.
“Allah menciptakan berbagai jenis paruh yang berbeda untuk burung yang berbeda untuk melakukan pekerjaan yang berbeda,” demikian jawabannya. “Paruh kamu sesuai dengan sempurna terhadap lingkungan di mana kami tinggal. Ulat dan cacing sangat lezat bagi kami para burung pemangsa serangga. dengan paruh kami yang tipis dan tajam, kami dapat dengan mudah mengambil ulat dan cacing dari bawah daun pohon. Burung pemakan ikan biasanya memiliki paruh yang panjang dengan bentuk seperti sendok pada ujungnya untuk menangkap ikan dengan mudah. Dan burung yang makan dari tumbuhan memiliki paruh yang membuat mereka dapat makan dengan mudah dari jenis tumbuhan yang mereka sukai. Allah telah menyediakan dengan sempurna untuk setiap makhluk di Bumi dengan memberikannya kemampuan yang dia butuhkan.”

Anwar punya pertanyaan lain untuk sang jelatik: “Kamu tidak mempunyai telinga seperti yang aku punya, namun kamu masih dapat mendengarkan aku dengan sangat baik. Bagaimana bisa?”
“Indera pendengaran sangatlah penting bagi kami para burung. Kami menggunakannya untuk berburu dan saling memperingatkan akan adanya kemungkinan bahaya sehingga kami dapat melindungi diri kami. Sebagian burung memiliki gendang pendengaran yang membuat mereka mampu mendengar suara yang paling kecil. Pendengaran burung hantu sangat peka akan suara. Burung Hantu dapat mendengar tingkat suara yang tidak dapat didengar manusia,” sang jelatik memberitahukannya.

Anwar kemudian bertanya: “Kalian para burung berkicau dengan sangat merdu. Aku senang mendengarkan kalian. Untuk apa kalian menggunakan suara kalian?” Sang burung mengangguk: “Sebagian dari kami memiliki kicauan yang berbeda untuk mengusir musuh kami. Terkadang kami membuat sarang kami di dalam lubang pada batang pohon, dan ketika musuh mencoba masuk, kami mendesis layaknya ular. Penyusup tersebut berpikir bahwa ada ular di dalam sarang itu, sehingga kami dapat melindungi sarang kami.”
“Apa lagi yang kalian lakukan untuk melindungi sarang kalian dari musuh?” Anwar ingin tahu.

“Kami membangun banyak sarang tipuan untuk menyesatkan musuh kami,” kata sang burung. “Dengan cara ini kami membuat para penyusup tersesat dan melindungi sarang dan telur kami yang telah kami sembunyikan di daerah tersebut. Untuk melindungi sarang kami dari ular berbisa, kami menutupi jalan masuk dan membuatnya sangat berliku‐liku. Kewaspadaan lainnya adalah membangun sarang pada pohon yang cabangnya berduri.”

Tidakkah mereka memperhatikan burung‐burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar‐benar terdapat tanda‐tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang‐orang yang beriman.
(QS. an‐Nahl, 16:79)

“Bagaimanakah sebagian burung dapat berenang dalam air? dan mengapa tidak semua burung dapat berenang?” Anwar bertanya pada temannya.
Sang jelatik menjawab: “Allah telah menciptakan sebagian dari kami dengan kemampuan untuk berenang. Dia telah memberikan mereka kaki berselaput jala agar mereka mampu berenang saat masuk ke dalam air. Sebagian lain dari kami memiliki jari tipis tanpa jala. jadi, selain burung air, burung tak dapatberenang.”
“Sama seperti sepatu renang!” Anwar berseru. “Saat aku berenang dengan memakai sepatu renang, aku dapat berenang dengan jauh lebih cepat.”
“Ada beberapa burung yang telah memiliki sepatu renang ini sejak lahir,” kata sang burung.
Saat Anwar dan sang burung sedang berbincang‐bincang, ibunya menyuruh Anwar untuk masuk ke kamarnya dan mengerjakan pekerjaan rumahnya. Pada saat bersamaan, hujan pun telah reda.
Anwar berkata pada temannya: “Sekarang aku harus masuk ke kamarku dan mengerjakan pekerjaan rumahku. Besok aku akan bercerita kepada teman‐temanku tentang kemampuan istimewamu, dan bagaimana Allah telah menciptakan kamu dan makhluk lainnya melalui karya seni kreatif yang sedemikian sempurna.”

“Hujan telah reda, jadi aku dapat kembali ke sarangku,” jawab sang jelatik. “Terima kasih telah membawa aku masuk, Anwar. Saat kau menceritakan temanmu tentang kami, Bisakah kamu sampaikan juga kepada mereka untuk peduli kepada kami dan jangan melemparkan batu kepada kami atau kepada makhluk lainnya?”
“Ya, tentu saja aku akan menyampaikannya kepada mereka,” Anwar setuju. “Semoga Allah melindungimu.” Anwar membuka jendela dan sang burung segera terbang, melayang menembus udara. Anwar memikirkan kesempurnaan dalam ciptaan Allah dan duduk mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Jumat, 25 Maret 2011

DONGENG/CERITA AKTIFKAN SIMPUL SARAF

Bayi-bayi yang rajin didongengi terbukti memiliki simpul saraf (myelin) yang lebih aktif. Sudahkah Anda melakukannya?

Sejak si kecil masih dalam kandungan, Rika sudah biasa mendongeng untuk anaknya. Banyak hal yang diceritakan, mulai dari aktivitas yang sedang dilakukannya sampai cerita-cerita sarat pesan moral yang dibaca dari beragam buku. Hingga anaknya lahir, Rika masih terus melakukan kebiasaan tersebut. Sambil memandikan, menyuapi dan bersiap tidur pun, ibu satu anak ini menyelipkan satu-dua cerita. Hasilnya? "Saya lihat perkembangan anak saya lebih cepat dibandingbayi-bayi seusianya. Saya rasa memang banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan mendongeng pada anak sejak bayi," ujarnya.
Ada lagi contoh nyata: seorang mempelai perempuan memilih satu lagu khusus untukmengiringi pernikahannya. Ketika ditanya alasannya, dengan lugas ia menjawab, "Lagu ini rasanya akrab sekali di telinga saya. Katanya sewaktu bayi saya sering didongengi cerita yang tertulis sebagai syair lagu ini." Wah, masa sih efek dongeng pada bayibisa sedahsyat itu?


AKTIFKAN SIMPUL SARAF
"Dari banyak penelitian sudah dibuktikan bahwa mendongeng pada anak memang banyak sekali manfaatnya. Jangankan sejak bayi, bahkan ketika si anak masih dalam kandungan pun mendongeng sudah bisa dilakukan," ujar Andi Yudha Asfandiyar, seorang pemerhati anak yang sudah berulang kali mengikuti seminar tentang dongengdi berbagai negara. Jadi kalau ada pertanyaan mulai kapan bayi bisa didongengi, jawabannya adalah sejak indra pendengaran bayi mulai berfungsi di dalam kandungan.
Ibarat sebuah gelombang radio, dengan bercerita pada anak berarti orang tua mengirim sinyal pada buah hatinya. "Kalau dilakukan dengan ketulusan hati, 'transmisinya' jadi semakin kuat. Anak bisa merasakan meski belum memahami sepenuhnya," tambahnya.


Di beberapa kesempatan, Andi Yudha selalu menekankan bahwa dongeng bisa mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan ketahanan mental anak. Ia lantas menguraikan manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas mendongeng pada bayi:
mengaktifkan simpul saraf
Banyak penelitian membuktikan, cerita-cerita yang didengar anak sejak bayi dapat mengaktifkan simpul-simpul saraf di otaknya (myelin). Cara kerjanya sederhana saja kok. Seperti halnya senam otak, banyaknya informasi yang didapat anak dapat membuat otak si kecil menjadi lebih aktif. Ini pun berimbas pada perkembangan IQ-nya.
merangsang indra
Dongeng yang disampaikan dapat merangsang indra bayi, terutama indra pendengaran dan penglihatan. Banyak pakar yang sependapat bahwa 5 tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan masa emas atau masa sedang giat-giatnya anak menyerap berbagai hal yang didengar dan dilihat. Jadi, meski belum bisa memberikan respons yang berarti, semua cerita yang disampaikan orang tua akan ditangkap oleh indra pendengaran dan penglihatannya untuk kemudian direkam dalam memorinya. Kedua indra tersebut juga jadi terlatih menangkap sedemikian banyak informasi.perkembangan lebih cepat
Banyaknya informasi yang didapat oleh bayi bisa mengoptimalkan pertumbuhannya. "Jangan heran kalau bayi yang lebih sering mendengar cerita nantinya jadi lebih cepat tengkurap, merangkak dan sebagainya. Itu semua akibat perkembangan otaknya lebih optimal karena banyaknya rangsang yang diterima," lanjut Andi Yudha.
Perkembangan kemampuan ini tidak berhenti sampai di usia bayi saja. Setelah anak tumbuh lebih besar pun banyak manfaat yang masih terasa apabila dongeng sering diperdengarkan pada bayi. "Paling tidak, karena perkembangan otaknya optimal, stimulus apa pun yang diajarkan padanya akan ditangkap lebih cepat."
lebih peka
Selain perkembangan kemampuan fisik dan intelektual, bayi-bayi yang sering mendengarkan orang tuanya bercerita diyakini akan tumbuh menjadi anak yang lebih peka. Seiring dengan pertambahan usianya, kepekaan ini akan mendukung sederet sikap positif lainnya, seperti rasa ingin tahu, percaya diri, sikap kritis, kemauan eksploratif, dan sebagainya. Dengan kata lain kecerdasan emosional, spiritual, dan ketahanan mentalnya kian terasah. Memang, tidak semua manfaat positif langsung terasa pada anak sejak bayi karena ada sifat-sifat yang mungkin baru terlihat setelah si anak tumbuh besar.

TAK HANYA MEMBACAKAN BUKU
Banyak yang beranggapan mendongeng untukbayi hanya bisa dilakukan dengan caramembacakan buku cerita. "Padahal tidak hanya sebatas dengan membacakan buku," tandas pendongeng yang baru berkeliling ke beberapa kota besar di Indonesia untukmendongeng di Taman Kanak-Kanak.
Jadi, bagaimana lagi dong cara mendongeng untukbayi?
1.Sambil beraktivitas
Momen-momen saat bayi makan, mandi, dipangku, ditimang, dan sebagainya bisa dimanfaatkan untuk mendongeng. "Jadi, tidak harus membacakan cerita sebelum tidur. Kalau harus selalu seperti itu sih, bisa-bisa orang tuanya yang tidur duluan," kelakar Andi. Kendati begitu, boleh-boleh saja membacakan buku cerita tertentu untukbayi, tapi tidak mutlak harus menggunakan cara tersebut.
2.Gunakan alat bantu
Gunakan alat bantu supaya dongeng menjadi menarik, selain memberi manfaat lebihuntuk merangsang indra bayi. Misalnya dot susu yang sudah tidak terpakai diandaikan sebagai topi atau sepatunya sebagai rumah-rumahan. Demikian halnya dengan kapas, popok, botol sampo, dan sebagainya yang bisa dimanfaatkan sebagai pendukung cerita. Kelebatan benda-benda dengan warna yang berbeda-beda itu akan menarik perhatiannya sekaligus merangsang penglihatannya. Selain itu, biarkan si kecil memegang dan merasakan tekstur alat bantu dongeng tersebut yang amat bermanfaatuntuk merangsang indra perabanya.3.Mainkan intonasi suara
Intonasi suara yang berbeda-beda amat bermanfaat bagi indra pendengarannya. Selain itu intonasi yang berbeda-beda ini akan membuat cerita menjadi lebih menarik. "Coba bandingkan antara cerita yang dibacakan orang tua dengan suara datar sambil terkantuk-kantuk dengan cara bertutur yang amat hidup dan variatif. Ada suara tinggiuntuk tokoh A, suara rendah untuk tokoh B, suara cempreng untuk tokoh C, dan sebagainya," saran Andi Yudha.
4.Tambahkan gerakan
Gerakan pantomim sederhana juga bisa disisipkan saat mendongeng. Misalnya ketika bercerita tentang kuda melompat, orang tua dapat menyontohkannya dengan gerakan melompat disertai ekspresi muka yang mendukung. "Tak perlu belajar pantomim secara khusus. Cukup gerakan sederhana saja asal mendukung cerita," lanjut Andi. Biarkan anak belajar berimajinasi sesuai dengan usianya. Bila si kecil sudah bisa membuat beberapa gerakan, tak ada salahnya memanfaatkan hal tersebut.
5.Libatkan perasaan
Seperti sudah disebutkan di atas, ketulusan orang tua bisa menjadi "transmisi" yang kuat untuk mengirim sinyal pada bayi. Ikatan batin bisa dibangun dari aktivitas tersebut. Begitu juga rasa sayang dan perhatian orang tua dapat terungkap di situ. "Banyak orang tua yang sekadar mengikuti teori untuk membacakan cerita pada bayinya meski sedang jengkel atau lelah. Jangan salah, bayi bisa merasakan itu semua lo," kata Andi.
6. Semua hal bisa diceritakan
Ingat, tidak cuma cerita yang sarat dengan pesan moral yang bisa didongengkan pada si kecil. Kejadian sehari-hari yang paling sederhana pun bisa diceritakan. Misalnya saat mengganti popok, menyuapinya, mengajaknya jalan-jalan di taman kompleks dan sebagainya. "Untuk usia ini, cerita dengan pesan moral boleh saja sesekali diperdengarkan, tapi tidak tiap kali bercerita harus ada tokoh antagonis dan protagonisnya," tukas Andi. Cerita yang mau didongengkan bisa disiapkan sebelumnya dengan menyontoh buku. Bisa juga spontan karena ada kejadian menarik saat itu. Intinya, banyak hal bisa dijadikan cerita untuk si kecil.
7. Batasi waktunya
Rentang perhatian dan konsentrasi bayi masih sangat terbatas. Itulah sebabnya, tidak disarankan untuk membacakan si kecil buku cerita yang tebal sampai selesai. "Cukuplah selama 2-5 menit sebagai permulaan," sarannya. Meski waktunya singkat, tapi kalau frekuensinya sering, lebih terasa manfaatnya.
8.Kesabaran
Satu hal yang juga harus menyertai kegiatan mendongeng adalah kesabaran ekstra. Bagaimana tidak? Karena respons yang ditunjukkan bayi sering tidak terlihat. Berbeda dari anak yang usianya lebih besar, yang responsnya sudah lebih jelas, semisal senang, sebal, tertarik dan sebagainya.
Jadi, orang tualah yang harus jeli mengamati situasi, apakah bayinya sedang "enak" didongengi atau sebaliknya. "Cari kesempatan yang enak bagi orang tua maupun bayinya," saran Andi pula.


JANGAN SALAH PILIH
Meski memberi sederet manfaat, ada beberapa hal yang mesti dicermati kala bercerita pada bayi. Yang pasti, orang tua harus pandai memilah-milah bahan cerita. Jauhkan cerita yang dapat berdampak negatif, seperti cerita tentang menjelek-jelekkan kelemahan orang lain. "Yang seperti ini ya tidak benar. Kalau yang diceritakan tidak pas, bisa-bisa malah mengganggu perkembangannya," tukas pria yang pernah mengikuti pelatihan mengenai masalah anak-anak atas undangan ACCU-UNESCO, di Tokyo, Jepang ini.
Lalu, cerita apa lagi yang sebaiknya tidak didengar anak? "Antara lain, keluh kesah orang tua, baik mengenai keharmonisan rumah tangga maupun masalah finansial. Contohnya, ibu yang curhat pada bayinya mengenai sang mertua. Yang seperti ini jelas kurang bijaksana disamping tentu saja sama sekali tidak bermanfaat bagi anak," tandasnya.
Selain itu orang tua harus menyadari bahwa di usia ini bayi begitu cepat menyerap semua informasi. Kalau sampai ada informasi yang keliru, bisa jadi efeknya tidak langsung terlihat saat itu juga, melainkan setelah si bayi tumbuh lebih besar. Runyam kan?


Sumber : http://www.infobunda.com/pages/newforum/posts.php?topic=9853

Jumat, 19 November 2010

Kisah Islami [ Ketika Ramadhan Tiba ]

Tidak terasa bulan Ramadhan sudah bergulir sepuluh hari.
"Gimana Bi ....... dapat ijin dari pak Hendra? " tanya Fitri, isteriku penuh harap.
"Nggak boleh Mi... nggak dapat ijin" jawabku.
Kulihat Fitri terdiam, tapi terlihat semburat kekecewaan nampak pada rona wajahnya. Yah betapa tidak cuti lebaran tahun ini tak kuperoleh dari atasanku. Berarti ini sudah tahun ketujuh kami sekeluarga tidak dapat berlebaran di kampung bersama sanak keluarga. Sejak menikah, sampai kami mempunyai 3 anak, aku dan Fitri memang tidak pernah merasakan berlebaran bersama keluarga.

Pada mulanya aku begitu yakin pak Hendra atasanku akan memberiku cuti 3 pekan, karena aku pikir sudah 2 tahun aku tidak mengambil cuti, dan lagi sudah tujuh kali berturut aku tidak dapat kebagian cuti lebaran. Tapi nyatanya dengan permintaan maaf, pak Hendra menolak ajuan cutiku. Posisiku sebagai chief manager di perusahaan ini mengharuskan aku menangani kontrak kerja yang diadakan sepekan setelah lebaran. Buyar sudah impian mudik lebaran bersama keluarga.Terbayang bagaimana Fitri sudah menyiapkan berbagai macam oleh-oleh untuk keluarga kami. Kebetulan keluargaku dankeluarga Fitri tinggal di kampung yang sama hanya dibatasi oleh sungai yang membelah. Dan bagaimana senangnya anak-anak kami dapat bertemu dengan mamak dan datuk nya. Oh tidak, aku tidak boleh mengecewakan mereka.
" Mi...bagimana kalau ummi saja yang pulang bersama anak-anak?', tanyaku.
"lalu abi bagaimana?" tanya Fitri.
'Yaaa.. habis bagaimana lagi, abi tetap tinggal di Jakarta, ummi dan anak-anak saja yang pulang ke Padang. Azzam, Ahmad dan Afif pasti rindu dengan mamak dan datuk", timpalku, "sudah tiga tahun mereka tidak pernah jumpa. Sekalian ummi refreshing kan, bisa ada yang bantuin momong anak-anak", godaku.

Selama ini kulihat Fitri memang begitu pontang-panting mengurus tiga anak kami yang masih kecil-kecil. Azzam 5 tahun, Ahmad 3 tahun dan Afif 1,5 tahun. Semua pekerjan rumah diurusnya sendiri mulai dari mengurus anak-anak, mengurus keperluanku, membereskan rumah, masak, mencuci dan lain lain. Ditambah lagi kegiatan isteriku untuk mengisi taklim dan pengajian kesana kemari. Harus kuakui bahwa isteriku ini memang wanita aktif yang tidak bisa diam. Aktifitasnya yang begitu padat tidak membuat dirinya merasa lelah. Kalau sering berdiam diri tanpa ada kesibukan, setan selalu mengusik kita, begitu alasannya.
"Bukannya abi yang justru mau istirahat", kata Fitri, " enak kan bi, nggak dengerin kecerewetan umi, atau tangisan anak-anak" . Hemm....aku tersenyum kecut mendengarkan perkataan Fitri. Tetapi dalam hatiku membenarkan apa yang baru Fitri ucapkan. Ya.. waktu istirahat, pikirku nakal. Tidak mendengar suara teguran isteriku, ketika aku masuk rumah tanpa membuka sepatu. Atau ketika makan tanpa membersihkan tangan dengan sabun dan air yang bersih. Atau ketika pergi kantor tanpa menyisir rambut dengan rapi, menggosok sepatu. Atau...beribu teguran yang selalu terdengar di telinga. Memang kuakui Fitri mempunyai sifat resik dan disiplin dalam segala hal. Dengan kesibukannya, kulihat rumah kami selalu rapi dan bersih.
Kebersihan adalah sebagian dari Iman katanya sambil menyitir salah satu hadits Rasulullah. Anak-anak tidak boleh tidur lewat dari pukul 9 malam dan pukul 4.30 harus sudah bangun. Setelah membaca koran dan buku harus diletakkan kembali ketempatnya. Pakaian harus tergantung rapi. Azzam dan Ahmad tampaknya sudah bisa mengikuti pola yang diterapkan umminya. Mereka menjadi anak yang rajin dan disiplin.Aku yang selalu memakai pakaian asal comot sekarang harus mematuhi 'peraturan' Fitri. Pakaian kantor, pakaian rumah, pakaian tidur, pakaian kondangan dipilah-pilahnya, suatu hal yang tak terpikirkan sebelum aku nikah. Pantas saja teman-temanku sering menggoda, menurut mereka penampilanku setelah nikah berubah 180 derajat, lebih rapi dan terurus katanya.
Aku yang sebelum menikah tampil asal-asalan, hingga kamar kostku pun terlihat amburadul, kadang agak jengah juga mendengar 'omelan' Fitri. Sifat kami yang satu ini memang sangat jauh berbeda, seperti langit dan bumi. Ketika aku mengatakan pada Fitri agar ia dapat mengurangi sedikit kedisiplinannya dan keresikannya, ia mengelak dan mengatakan bahwa keluarga muslim harus bersih. Bagaimana kita bisa mendakwahi orang lain agar terbiasa hidup teratur dan bersih sementara diri kita tidak berbuat demikian tangkisnya. Atau katanya kami harus malu kepada tetangga sebelah yang beragama Nasrani apabila rumah kotor, penampilan awut-awutan dan hidup tidak teratur. Sebenarnya betul juga apa yang dikatakannya. Tetapi sekarang aku mau istirahat di rumahku sendiri, aku ingin merasakan sebentar kehidupan seperti dulu sewaktu kost dan sebelum menikah. Bebas......
****
Pulang dari mengantar Fitri dan anak-anak ke Cengkareng, 10 hari sebelum Idul Fitri, rumah tampak begitu lengang sekali. Aku bisa beristirahat dan tenang beriktikaf pikirku. Adzan maghrib terdengar, bismillah... kuhirup air putih dari kulkas. Tidak ada teh hangat dan kolak kesukaanku yang biasanya menemani berbuka puasa. Setelah sholat maghrib kuambil nasi dari rice cooker dan rendang buatan Fitri yang tersimpan di lemari es. Aku malas sekali untuk menghangatkannya. Biarlah... nasi putih plus rendang dingin menjadi santapanku kali ini.
Oh ya, aku harus segera pergi ke Masjid Baiturrohman sekarang. Ada janji sholat tarawih dan pengajian Ramadhan. Piring-piring dan gelas bekas makan kubiarkan saja tergeletak di meja. Kuambil baju sekenaku dan tancap gas menuju masjid karena tak ada waktu lagi.

****
Tidak terasa Ramadhan sudah hampir berlalu. Ini adalah malam Idul Fitri, terdengar suara takbir menggema di masjid-masjid. Ramai sekali. Suara takbir nan merdu. Tiba-tiba aku tersadar dan merasa hampa. " Ya..Alloh, aku begitu rindu kepada isteri dan anak-anakku......aku rindu dengan celoteh dari mulut-mulut kecil mereka, tangis mereka, atau senandung do'a yang sering mereka suarakan, dan juga rindu dengan senyum Fitri, serta teguran-tegurannya". Butir-butir kristal berjatuhan tak terasa di atas sajadah panjangku. Tangiskupun tak dapat ku bendung lagi. Ramadhan, bulan yang penuh berkah akan meninggalkanku dan kerinduanku akan keluargaku membuat aku tak bisa menahan tangis.
Disuasana ramai seperti sekarang ini hanya kesunyian yang aku rasakan. Aku merasa Alloh mencabut sementara nikmat yang telah diberikanNya. Yaitu nikmat berkumpul dengan keluarga. Terasa sekarang ini betapa nikmat itu ternyata merupakan karunia besaar sekali, yang tidak pernah kusadari selama ini. Nikmat kesenangan berkumpul dengan keluarga kurasakan setelah nikmat itu tidak ada untuk sementara.

Aku ingat bagaimana wajah Fitri yang mendadak cemberut ketika aku pulang kantor tanpa melepas sepatu walaupun kulihat dia sedang mengepel lantai. Atau bagaimana kesalnya ia ketika aku memporak-porandakan lagi lemari buku yang baru saja dibereskannya hanya karena ingin mencari sebuah buku saja. Kuingat pula kurang lebih 4 bulan yang lalu ia mengatakan dengan sangat hati-hati kepadaku bahwa mengurus Azzam, Ahmad dan Afif lebih mudah ketimbang mengurusku. Aku yang mendengarnya hanya tersenyum geli, dan dengan santai kujawab bahwa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan di luar rumah. Perasaan bersalah menumpuk di dada, aku yang seharusnya membantu meringankan beban Fitri malah membuat pekerjaanya bertambah. Maafkan aku Fitri, karena telah membuatmu bertambah repot selama ini..... Ramadhan kali ini telah memberiku banyak pelajaran.

Pagi-pagi aku bersiap untuk menunaikan shalat Idul Fitri, kucari baju yang cocok. Tetapi tak ada baju yang sesuai di lemari pakaian. Kulihat di ujung kamar ada seonggok pakaian kotor yang belum sempat kucuci apalagi kuseterika. Terpaksa aku mengambil baju baru yang masih terbungkus plastik. Andaikan Fitri ada pasti dengan sigap ia menyiapkan segala keperluanku. Kutolehkan pandangan ke sekitar rumah.....ooou, rumah tampak kotor sekali. Piring-piring dan gelas kotor menumpuk di dapur, lantai tampak kusam, jendela berdebu, buku dan koran berserakan di mana-mana. Di halaman bunga bunga kesayangan Fitri tampak layu dan daun-daun kering berguguran dimana-mana. Tak sejuk dipandang mata.
Aku bergegas melangkah menuju lapangan untuk menunaikan Shalat Idul Fitri. Di jalan terlihat banyak anak-anak kecil bergandengan riang dengan kedua orang tua mereka....senang sekali .Tiba-tiba aku merasa cemburu sekali, itu sebabnya pulang dari shalat Idul Fitri segera kutelepon mereka dan kukatakan agar sesegera mungkin mereka kembali ke Jakarta. Rinduku tak tertahan lagi.
****
Hari ini aku bahagia sekali isteri dan anak-anakku telah tiba kembali di Jakarta. Di perjalanan pulang dari Bandara Soekarno-Hatta, banyak sekali cerita-cerita lucu yang kudengar. Bagaimana Azzam berceloteh tentang keheranannya melihat kerbau yang dilepas begitu saja di sawah. Ahmad yang gemar mengejar bebek di halaman. Tak ketinggalan pula Fitri begitu semangat menceritakan bagaimana mamak senang sekali pada Afif yang menurutnya amat mirip dengannya. Subhanalloh ...mereka adalah Qurrata 'ayun bagiku. Diam-diam kubaca do'a "Robbana hablanaa min azwazina wa dzuriyatinaa quratta'ayun waja'alna lilmutaqina imamah". Terima kasih ya Alloh ..... Engkau telah memberiku anak-anak yang sholeh, sehat dan pintar. Engkau telah memberiku isteri yang sholehah, baik, dan rajin.
Namun begitu tiba di rumah raut muka Fitri yang cerah terlihat berubah seketika...... Ia terdiam dan kemudian terpekik......."Masya Allah abi,..... ini rumah apa kapal pecah?" Dalam hati aku sudah menduga. " Maafkan aku Fitri, insya Allah ini yang terakhir kali......" bisikku seraya membantunya membereskan semuanya. (wi)

Mencari Senyum

Mencari Senyum

Helvy Tiana Rosa

Seorang lelaki tua dengan langkah tertatih-tatih memasuki sebuah kota. Wajahnya kusut, matanya liar dan pakaiannya kumal. Beberapa orang yang berpapasan dengannya segera menyingkir.

Di suatu tempat, di bawah sebuah pohon setua dirinya, lelaki itu tersungkur. Perlahan ia mencoba bangkit dan kembali memandangi orang yang lalu lalang di kota itu.

Lelaki Tua: “Tolong…! Tolonglah aku! Tolong…!” (mengiba, mengulang-ulang perkataannya)

Dua lelaki muda melintas di hadapannya. Memandang sekilas kemudian menghampirinya. Lelaki tua itu terus merintih-rintih. Beberapa orang lewat begitu saja tanpa peduli.

Lelaki 1: “Ada apa, Pak? Ada apa?” (memegang tangan, membimbing lelaki tua itu bangkit)

Lelaki 2: “Ya, apa ada yang bisa kami bantu?” (prihatin)

Lelaki Tua: “Tolonglah saya. Tolong! Saya…saya mencari sesuatu yang telah tak ada lagi di kota kami.”

Dua lelaki muda itu saling berpandangan heran.

Lelaki 1: “Sesuatu yang tak ada lagi di kota bapak?”

Lelaki Tua: “Ya…,aku mencari sesuatu yang sangat berharga, yang tiba-tiba saja tercerabut dari wajah semua orang di kota kami.” (manggut-manggut, sedih)

Lelaki 1 dan lelaki 2: “Apa itu…?”

Lelaki Tua: (menerawang penuh harap) “Sebuah senyuman.”

Lelaki 1 dan 2: “Senyuman?”

Lelaki 1: “Aneh. Bapak bilang bapak mencari sebuah senyuman. Apa saya tidak salah dengar?”

Lelaki Tua: (menggeleng-gelengkan kepala) “Ya, aku sudah berjalan begitu jauh, mencari sebuah senyuman.”

Lelaki 2: “Jangan bergurau! Semua manusia diciptakan dengan wajah. Di dalam wajah kita, ada bibir yang bisa digerakkan begini, begini dan begitu (menggerakkan bibirnya ke depan, ke samping dan sebagainya dengan kesal).

Lelaki 1: “Ya, bahkan orang segila apa pun masih memiliki senyuman. Aku benar-benar tak mengerti. ”

Lelaki Tua: “Kalau begitu kalian menganggapku lebih dari gila!? (sewot). Dengar, aku tidak mengada-ada! Semua orang di kotaku sudah tak bisa lagi tersenyum! Titik!”

Lelaki 1 dan 2 saling berpandangan kembali.

Lelaki 1 : (menarik napas panjang, menggaruk-garuk kepala yang tak gatal) “ Baiklah. Sesuatu terjadi tentu ada sebabnya. Mungkin aku pun telah gila, tetapi aku ingin tahu hal apa yang menyebabkan penduduk di kota kalian tak bisa tersenyum?”

Lelaki 2: “Ya, apa ada orang-orang yang berkeliaran dan menjahit semua bibir penduduk di kotamu, sehingga mereka tak bisa lagi tersenyum atau membuka mulut untuk tertawa?” (mengejek)

Lelaki Tua: (menggeleng, serius) “Tidak. Bahkan jahitan-jahitan di mulut kami telah dilepaskan. Dulu memang penduduk kota kami tidak bisa bicara, kecuali (mencontohkan) Hm…hm…(mengangguk-angguk), tetapi kini, setelah jahitan-jahitan dilepaskan dari bibir kami, entah mengapa bibir kami menjadi kebas. Kami bebas berkata-kata tetapi tak bisa lagi tersenyum. Bahkan, bila kami mencoba untuk tertawa yang keluar adalah amarah, tangisan dan airmata….”

Lelaki 2: “Aku tak mengerti. Aku benar-benar tak mengerti. Lebih baik aku pergi daripada mendengarkan celotehan orang gila ini!” (kesal dan berbalik akan pergi)

Lelaki 1: (mengejar lelaki 2 yang bergegas pergi) “Tunggu, teman! Tetapi…kurasa, entahlah…, ia datang dari jauh, mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, dan mungkin kita bisa kita menolongnya.”

Lelaki 2: (cemberut) “ Menolong? Bagaimana menolong orang gila ini?”

Lelaki 1 bergegas menghampiri lelaki tua itu.

Lelaki 1: “Katamu seluruh penduduk di kotamu tak dapat lagi tersenyum?”

Lelaki Tua: (manggut-manggut): “Ya…,ya….”
Lelaki 1: “Berarti kau juga?”

Lelaki Tua: (manggut-manggut lagi) “Tentu saja!”

Lelaki 1 bergegas kembali menghampiri Lelaki 2. Wajahnya lebih cerah.

Lelaki 1: “Dengar, lelaki tua itu mengaku bernasib sama dengan seluruh penduduk di kotanya! Ia juga tak bisa tersenyum! Tugas kita adalah menolongnya agar ia bisa tersenyum lagi! Nah, setelah ia bisa tersenyum kembali, mungkin hal ini akan berpengaruh pada para penduduk kota itu.”

Lelaki 2: (Bengong) “Jadi…kita harus membuatnya tersenyum?“

Lelaki 1: “Ya, tunggulah sebentar di sini. Aku akan menyuruh orang membawa makanan dan minuman yang enak untuknya. Siapa tahu ia akan tersenyum.”

Lelaki 2: “Tentu saja (setuju, yakin), ia akan tersenyum dan berterimakasih pada kita.”

Lelaki 1 meninggalkan tempat itu. Lelaki 2 sesekali memperhatikan si lelaki tua. Wajah lelaki tua itu keras, dingin, dan penuh curiga.

Tak lama, Lelaki 1, kembali bersama seorang lelaki lain bergaya genit (lelaki 3) yang membawa baki penuh berisi makanan dan minuman yang enak. Mereka meletakkan nampan besar itu di hadapan si lelaki tua.

Lelaki 1: “Ini kubawakan makanan dan minuman lezat. Nikmati dan tersenyumlah.”

Lelaki Tua: (memakan makanan dan minuman itu dengan rakus) “Terimakasih….”

Lelaki 2: (menghampiri) “Mengapa kau tak mengucapkan terimakasih sambil tersenyum pada kami?”

Lelaki Tua : “Sudah kukatakan, aku tak bisa tersenyum!”

Lelaki 1,2,3 saling berpandangan.

Lelaki 2: “Aku akan menggelitik kakinya. Biasanya bila digelitik, orang pasti akan tertawa!”

Lelaki 1 : “Ya, ya…, ide yang bagus!”

Lelaki 3: (bindeng) “Aih, ike juga setuju!”

Lelaki 2 segera menggelitik kaki lelaki tua itu, tetapi tak ada reaksi. Ia menggelitik sekujur badan orangtua itu. Sia-sia. Lelaki tua tersebut tak juga tertawa. Akhirnya ketiga lelaki itu menggelitik sekujur badannya secara bersamaan.

Lelaki Tua: “Aduh…aduh, sakit! Aduh perih! A…duh!” (mengerang)

Lelaki 1,2,3: (Terkejut, menghentikan tindakan mereka) “Sakit? Perih?”

Lelaki 2: “Mengapa kau tak tersenyum? Seharusnya kau tertawa! Orang akan tertawa bila kegelian!”

Lelaki tua: (melotot) “Aku tidak bisa, tahu! Bodoh! Bukankah sudah kukatakan sejak tadi, aku tak bisa lagi tersenyum. Jadi berhentilah melakukan hal yang konyol! Tolong aku, anak muda!”

Lelaki 1,2,3 berpandangan keheranan.

Lelaki 1: (bangkit) “Sebentar, aku punya akal!” (pergi)

Lelaki 2 dan 3 bangkit sambil memandang lelaki tua itu sebal. Mereka bolak-balik di hadapan lelaki tua itu sambil memikirkan cara membuatnya tersenyum. Sesekali lelaki 2 nyengir kuda melihat gaya lelaki 3 yang centil. Tetapi lelaki tua itu sama sekali tak bergeming.

Lelaki 3 (bindeng): (berlari gembira menghampiri lelaki tua itu) “Aih, aku punya dollar yang banyak! Kau mau? Ambillah? Nih, ini! Semua menjadi milikmu!”

Lelaki Tua: “Untukku? Boleh.” (memasukkan semua dolar ke sakunya).

Lelaki 3 : (bengong, bindeng) “Mana ucapan terimakasihmu?”

Lelaki Tua: “Terimakasih.” (datar)

Lelaki 3: (kesal, bindeng) “Di mana-mana, orang itu kalau dikasih bantuan, apalagi uang, matanya berbinar-binar, hati menjadi girang dan ia akan tersenyum bahkan tertawa. Bagaimana sih?”

Lelaki Tua: (cemberut) “Ngasih kok nggak ikhlas. Sudahlah, tolong saja aku dan para penduduk kota agar bisa tersenyum kembali….”

Lelaki 2 dan 3: “Huh!” (kesal)

Tiba-tiba, lelaki 1 datang bersama seorang badut yang lucu sekali. Badut itu menari-nari, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sang Badut mengitari lelaki tua dan mencoba terus menghiburnya.
Badut (jenaka) : “Apakabar, Pak tua? Tralala trilili, aku pelucu, penghibur semua orang (tertawa-tawa), janganlah takut!” (badut memamerkan berbagai aksi lucu)

Lelaki 1,2,3 : (tertawa dan bertepuk tangan melihat aksi badut)

Lelaki tua itu menatap Sang Badut agak lama, lalu di luar dugaan, ia malah menangis. Lambat laun tangisan itu berubah isakan yang semakin kencang. Lelaki 1,2 dan 3 keheranan.

Lelaki Tua: ( Menangis, sedih sekali) “Mengapa harus ada orang sepertimu? (menunjuk-nunjuk badut). Setelah tiga puluh dua tahun kepedihan ini kau muncul dengan konyolnya.”

Lelaki 3: “Aih, apa maksudmu, Pak Tua!”

Lelaki 1: “Ya, bukankah seharusnya badut dapat membuat orang tersenyum dan tertawa?”

Lelaki Tua: (menangis)“Sungguh, aku telah melihat badut-badut bermunculan tahun ini di sepanjang jalan di kota kami. Seolah mereka adalah pahlawan yang bisa mengurangi derita dan membuat kami menyunggingkan senyuman. (mencoba berhenti menangis) Dengar! Kami hanya bisa menertawakanmu dalam kegetiran terpencil di sudut sanubari kami. Kalian tak bisa membodohi kami. Sebab kalian cuma badut! Bahkan bila kalian mengenakan jas, dasi atau sorban sekali pun! Senyumku bukan untuk orang seperti kalian!”

Lelaki 2: “Oh, Tuhan! Aku tak mengerti! Ia malah marah!”

Badut: (Kesal) “Ya, sudah. Lebih baik aku pergi.”

Lelaki 1 dan 2 berpandangan bingung sambil menggelengkan kepala. Lelaki 3 dengan centil melambai-lambaikan tangannya pada Sang Badut.

Lelaki 3: “Aih, daaag, Om Badut!”

Suram. Ke empat lelaki itu termenung sesaat.

Lelaki Tua: (berjalan,mencari, mendamba)“Senyuman…,di mana senyuman itu? Aku ingin membawa berjuta senyuman kembali ke kota kami…, senyuman…mana senyuman itu? Kehidupan kota kami bagai mati tanpa senyuman….” (merintih sedih)

Hening.

Lelaki 1: (berteriak) “Pak Tua! Hei, Pak Tua! Sebenarnya siapakah yang mengambil semua senyuman dari kota kalian!?”

Lelaki 2: “Ya! Itu yang belum kau ceritakan pada kami!”

Lelaki Tua: (mengernyitkan kening, menggelengkan kepala, menerawang) “Aku tidak begitu pasti. Mereka para penjarah.”

Lelaki 2: “Penjarah? Apa yang mereka jarah?”

Lelaki Tua: “Apa saja. Harta, kedudukan bahkan kehormatan. Mereka menjarah beras, gula juga perempuan. Mereka membakar dan membuat onar. Memaksa kami menggigil karena takut dan lapar, setiap malam dan siang. Mereka bermain-main dengan darah lalu tiba-tiba para ulama kami mati. Kemudian tak ada lagi senyum yang bisa kami temukan. Semua senyum mereka rampas, untuk mereka bagikan pada orang-orang gila yang kini berkeliaran di kota kami…. “

Hening lagi.

Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk. Lelaki-lelaki itu mencari arah datangnya suara dan terkejut melihat banyak orang menuju ke arah mereka. Wajah orang-orang itu seperti mencari sesuatu. Lelaki 1 segera menghampiri salah seorang di antara mereka.

Lelaki 1: “Siapa kalian? Darimana dan hendak kemana?”

Orang 1: “Kami mencari orang-orang yang bercahaya.”

Lelaki 2: (menghampiri) “ Orang-orang yang bercahaya?Apa maksudmu?”

Orang 1: “Kami telah kehilangan senyuman. Hanya orang-orang bercahaya yang bisa mengembalikan senyum kami.”

Lelaki Tua : ( tersentak, tergopoh-gopoh) “Jadi kalian juga seperti aku? Hidup tanpa senyuman?”

Orang-orang itu mengangguk-angguk.

Lelaki Tua: “Dan hanya orang-orang yang bercahaya, yang bisa membuat kita kembali tersenyum?”

Orang 1: “Ya.”

Lelaki 2: “Siapa mereka? Di mana mereka?”

Orang 1: “Entahlah. Kita bisa jelas mengetahui, ketika kita melangkah di jalan cahaya….”
Lelaki Tua: “Melangkah di jalan cahaya?”

Orang 1: “Ya, melangkah di jalan cahaya!”

Orang-orang itu mengangguk-angguk dan segera berlalu dari hadapan mereka. Tiba-tiba lelaki tua menyusul. Ia berlari ke arah orang-orang itu.

Lelaki Tua: “Aku ikut! Cahaya! Cahaya!” (berlari meninggalkan ketiga lelaki yang tampak bingung).

Lelaki 3: “Aih, masak sih senyuman begitu susah dicari. Sampai harus menuju cahaya segala. Lihat nih (pada lelaki 2), senyumku manis kan?”

Lelaki 2: (melompat, terbelalak) “Itu bukan senyuman! (pada Lelaki 1) Teman, lihatlah, seringainya! Menyeramkan!”

Lelaki 3: (bingung, mencoba tersenyum, tetapi yang tampak seringai yang mengerikan)

Lelaki 1: “Benar! Kkkau menakuti kami! Seharusnya kau tersenyum. Lihat senyumku, ini…”

Lelaki 3: (takut) “Aih, tolong!! Senyummu membuatku takut! Toloooong!” (lari meninggalkan Lelaki 1 dan Lelaki 2).

Lelaki 2: “Berhenti tersenyum! Kau menyeramkan. Nah, lihat senyumku (mencoba tersenyum, tetapi kaku) “A…apa yang terjadi…, a…aku tak bisa tersenyum….”

Lelaki 3: (memegang bibirnya) “A…aku juga…,mengapa bisa begini? Apa yang…sebenarnya terjadi?”

Panik.

Lelaki 1 dan 2: (sedih, bingung) “Senyuman…, di mana senyuman? (mencari, melangkah tak tentu arah) Cahaya…, cahaya… di mana cahaya? Senyuman…senyuman… di mana senyuman…? Cahayaaaa!?? Senyumaaaann!?? Senyumaaaan!?? Cahayaaaa!??”

Utan Kayu, 1998
Helvy Tiana Rosa
5 Februari 2001

MENANTI BANGAU TERBANG LEWAT

MENANTI BANGAU TERBANG LEWAT
Source : Hokoriku-MOL
Teng !…jam dinding berdentang satu kali. Malam semakin larut, tapi Anis masih duduk di ruang tengah. Sejak tadi matanya sulit terpejam. Baru beberapa jam yang lalu Ibu Mas Iqbal, suaminya, menelepon, "Nis, Alhamdulillah, barusan ini keponakanmu bertambah lagi..." suara ibu terdengar sumringah di ujung sana.
"Alhamdulillah…, laki-laki atau perempuan Bu ?" Anis tergagap, kaget dan senang. Sudah seminggu ini keluarga besar Mas Iqbal memang sedang berdebar-debar menanti berita Dini, adik suaminya, yang akan melahirkan.
"Laki-laki, cakep lho Nis, mirip Mas mu waktu bayi…" Ibu tertawa bahagia. Dini memang adik yang termirip wajahnya dengan Mas Iqbal.
"Selamat ya Bu nambah cucu lagi, salam buat Dini, insya Allah besok pulang kerja Anis dan Mas Iqbal akan jenguk ke rumah sakit" janji Anis sebelum menutup pembicaraan dengan Ibu yang sedang menunggu Dini di rumah sakit.
Setelah menutup telpon Anis termenung sesaat. Ia jadi teringat usia pernikahannya yang telah memasuki tahun ke lima, tapi belum juga ada tangis si kecil menghiasi rumah mereka. Meskipun demikian ia tetap ikut merasa sangat bahagia mendengar berita kelahiran anak kedua Dini di usia pernikahan mereka yang baru tiga tahun.
"Koq melamun !…" Mas Iqbal yang baru keluar dari kamar mandi mengagetkannya. Ia memang pulang agak malam hari ini, ada rapat di kantor katanya. Air hangat untuk mandinya sempat Anis panaskan dua kali tadi.
"Mas, ibu tadi mengabari Dini sudah melahirkan, bayinya laki-laki" cerita Anis.
"Alhamdulillah...Dila sudah punya adik sekarang" senyum Mas Iqbal sambil mengeringkan rambutnya, tapi entah mengapa Anis menangkap ada sedikit nada getir dalam suaranya. Anis menepis perasaannya sambil segera menata meja menyiapkan makan malam.
Selepas Isya bersama, Mas Iqbal segera terlelap, seharian ini ia memang lelah sekali. Anis juga sebenarnya agak lelah hari ini. Ia memang beruntung, selepas kuliah dan merasa tidak nyaman bekerja di kantor, Anis memutuskan untuk membuat usaha sendiri saja. Dibantu temannya seorang notaris, akhirnya Anis mendirikan perusahaan kecil-kecilan yang bergerak di bidang design interior. Anis memang berlatar pendidikan bidang tersebut, ditambah lagi ia punya bakat seni untuk merancang sesuatu menjadi indah dan menarik. Bakat yang selalu tak lupa disyukurinya. Keluarga dan teman-teman banyak yang mendukungnya, akhirnya sekarang ia sudah memiliki kantor mungil sendiri tidak jauh dari rumahnya.

Dan, seiring dengan kemajuan dan kepercayaan yang mereka peroleh, perusahaannya sedikit demi sedikit mulai dikenal dan dipercaya masyarakat. Tapi Anis merasa itu tidak terlalu melelahkannya, semua dilakukan semampunya saja, sama sekali tidak memaksakan diri, malah menyalurkan hobi dan bakatnya merancang dan mendesign sesuatu sekaligus mengisi waktu luangnya. Beberapa karyawan cekatan sigap membantunya. Malah sekarang sudah ada beberapa designer interior lain yang bergabung di perusahaan mungilnya. Itu sebabnya sesekali saja Anis agak sibuk mengatur ketika ada pesanan mendesign yang datang, selebihnya teman-teman yang mengerjakan. Waktu Anis terbanyak tetap buat keluarga, mengurus rumah atau masak buat Mas Iqbal meski ada Siti yang membantunya di rumah, menurutnya itu tetap pekerjaan nomor satu. Anis juga bisa tetap rutin mengaji mengisi ruhaniahnya. Namun karena kegiatannya itu, biasanya ia tidur cepat juga, tapi malam ini rasa kantuknya seperti hilang begitu saja. Berita dari ibu tadi membuat Anis teringat lagi. Teringat akan kerinduannya menimang si kecil, buah hatinya sendiri.

Lima tahun pernikahan adalah bukan waktu yang sebentar. Awalnya Anis biasa saja ketika enam bulan pertama ia tak kunjung hamil juga, ia malah merasa punya waktu lebih banyak untuk suaminya dan merintis kariernya. Seiring dengan berjalannya waktu dan tak hentinya orang bertanya, dari mulai keluarga sampai teman-temannya, tentang kapan mereka menimang bayi, atau kenapa belum hamil juga, Anis mulai khawatir. Fitrahnya sebagai wanita juga mulai bertanya-tanya, apa yang terjadi pada dirinya, atau kapan ia hamil seperti juga pasangan-pasangan lainnya… Atas saran dari banyak orang Anis mencoba konsultasi ke dokter kandungan. Seorang dokter wanita dipilihnya. Risih juga ketika menunggu giliran di ruang tunggu klinik, pasien di sekitarnya datang dengan perut membuncit dan obrolan ringan seputar kehamilan mereka. Atau ketika salah seorang diantara mereka bertanya sudah berapa bulan kehamilannya.
"Saya tidak sedang hamil, hanya ingin konsultasi saja…" senyum Anis sabar meski dadanya berdebar, sementara Mas Iqbal semakin pura-pura asyik dengan korannya. Anis bernafas lega ketika dokter menyatakan ia sehat-sehat saja. Hindari stress dan lelah, hanya itu nasehatnya.

Setahun berlalu. Ditengah kebahagiaan rumah tangganya ada cemas yang kian mengganggu Anis. Kerinduan menimang bayi semakin menghantuinya. Sering Anis gemas melihat tingkah polah anak-anak kecil disekitarnya, dan semakin bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dirinya. Setelah itu mulailah usaha Anis dan suaminya lebih gencar dan serius mengupayakan kehamilan. Satu demi satu saran yang diberikan orang lain mereka lakukan, sejauh itu baik dan tidak melanggar syariat Islam. Beberapa dokter wanita juga kadang mereka datangi bersama, meski lagi dan lagi sama saja hasilnya. Sementara hari demi hari, tahun demi tahun terus berlalu.

Kadang Anis menangis ketika semakin gencar pertanyaan ditujukan padanya atau karena cemas yang kerap mengusik tidurnya. Mas Iqbal selalu sabar menghiburnya "Anis...apa yang harus disedihkan, dengan atau tanpa anak rumah tangga kita akan berjalan seperti biasa. Aku sudah sangat bahagia dengan apa yang ada sekarang. Insya Allah tidak akan ada yang berubah dalam rumah tangga kita…" goda Mas Iqbal suatu ketika seperti bisa membaca jalan pikirannya. Suaminya memang tahu kapan Anis sedang mendalam sedihnya dan harus dihibur agar tidak semakin larut dalam kesedihannya. Di saat-saat seperti itu memang cuma suaminya yang paling bisa menghiburnya, tentu saja disamping do'a dan berserah dirinya pada Allah. Kadang Anis heran kenapa Mas Iqbal bisa begitu sabar dan tenang, seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi. Dia selalu ceria dan optimis seperti biasa. Apakah memang pria tidak terlalu memasukkan unsur perasaannya atau mereka hanya pintar menyembunyikan perasaan saja? Anis tidak tahu, yang pasti sikap Mas Iqbal banyak membantu melewati masa-masa sulitnya.

Sebenarnya Anis juga bukan selalu berada dalam kondisi sedih seperti itu. Sesekali saja ia agak terhanyut oleh perasaannya, biasanya karena ada faktor penyulutnya, yang mengingatkan ia akan mimpinya yang belum terwujud itu. Selebihnya Anis bahagia saja, bahkan banyak aktivitas atau prestasi yang diraihnya. Buatnya tidak ada waktu yang disia-siakan. Selagi sempat, semua peluang dan kegiatan positif dilakukannya. Kadang-kadang beberapa teman menyatakan kecemburuannya terhadap Anis yang bisa melakukan banyak hal tanpa harus disibuki oleh rengekan si kecil. Anis tersenyum saja.

Anis juga tidak pernah menyalahkan teman-temannya kalau ketika sesekali bertemu obrolan banyak diisi tentang anak dan seputarnya. Buatnya itu hal biasa, usia mereka memang usia produktif. Jadi wajar saja kalau pembicaraan biasanya seputar pernikahan, kehamilan, atau perkembangan anak-anak mereka yang memang semakin lucu dan menakjubkan, atau cerita lain seputar itu. Biar bagaimanapun Anis menyadari menjadi ibu adalah proses yang tidak mudah dan perlu belajar atau bertukar pengalaman dengan yang lain. Tapi kadang-kadang, sesekali ketika Anis sedang sedih, rasanya ia tidak mau mendengar itu dulu. Anis senang juga jika ada yang berusaha menjaga perasaannya diwaktu-waktu tertentu, dengan tidak terlalu banyak bercerita tentang hal tersebut, bertanya, atau malah menyemangati dengan do'a dan dukungan agar sabar dan yakin akan datangnya si kecil menyemarakkan rumah tangganya.

Anis tersadar dari lamunannya. Diminumnya segelas air dingin dari lemari es. Sejuk sekali. Meskipun malam tapi udara terasa pengap. Ditambah lagi berwudhu ditengah malam, melunturkan sebagian besar kemelut dalam dadanya. Setelah membangunkan suaminya, Anis shalat malam berdua. Di akhir shalat air mata Anis membasahi sajadahnya. "Rabbi..., ampunilah dosa-dosa kami, jangan beri kami cobaan yang tidak kuat kami menanggungnya. Beri kami kekuatan dalam menjalani semuanya. Perkenankan kami memiliki buah hati pewaris kami, penerus kami dalam menegakkan Dien-Mu. Hanya ridha-Mu yang kami cari. Sungguh tidak ada yang lain lagi...". Selesai shalat Anis terlelap. Dalam mimpinya ia bermain bersama beberapa gadis kecil. Senang sekali.
*****
Suatu siang di kantornya, Anis sedang merancang sebuah ruang pameran. Ada festival Islam yang akan digelar, mungkin karena tidak banyak designer interior berjilbab rapi seperti Anis, ia dipercaya merancangnya. Ketika sedang mencorat-coret gambar, Fitri mengejutkannya, "Mbak Anis, ada tamu yang mau bertemu".
"Dari mana Fit ?" tanya Anis.
"Katanya dari Yayasan Amanah, mbak, mau menawarkan kerja sama".
"Iya deh, saya kedepan sepuluh menit lagi" jawab Anis.
Setelah bincang-bincang dengan tamunya akhirnya Anis menyepakati kerja sama menyantuni beberapa anak-anak yatim yang diasuh yayasan tersebut. Anis memang selalu menyisihkan rezkinya untuk mereka yang membutuhkan. Perusahaan mungil yang dikelolanya selalu berusaha menjalankan syariat Islam.

Sejak itu Anis punya kegiatan baru, menyantuni dan mengasuh beberapa anak yatim bersama yayasan tersebut. Tidak banyak kegiatan sebenarnya, hanya laba perusahaan kecilnya yang tidak seberapa disisihkan sebagian untuk disalurkan sebagai beasiswa untuk beberapa anak-anak tersebut. Itupun setelah dimusyawarahkan dengan semua teman-teman dan disetujui bersama. Tapi banyak hikmah yang Anis dapatkan. Sesekali Anis jadi bertemu dan bersahabat dengan mereka. Anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya sehingga tidak seberuntung yang lain, yang mendapat curahan perhatian dan kasih sayang berlimpah dari orang tua. Mereka memang kurang beruntung, tapi kesabaran dan ketegaran mereka membuat Anis malu menyadari dirinya yang rapuh, mudah mengeluh dan sedih. Anis jadi menyadari betapa sebenarnya karunia yang diberikan Allah padanya begitu banyak dan berlimpah. Kalaupun ada satu atau dua hal yang luput, itu tidak seberapa dibandingkan dengan yang ia telah dapatkan. Anis jadi menata dirinya untuk lebih sabar dan banyak bersyukur. Dengan banyak bersyukur tentu Ia akan lebih banyak memberikan lagi nikmat-Nya.
*****
"Bu Anis, kuenya enak sekali..." puji Ina tulus. Mata polosnya bersinar senang. Ia memang anak yang manis, kelas 5 SD dan selalu ranking satu di kelasnya, ibunya hanya penjual gado-gado dengan tiga orang anak, sementara ayahnya sudah meninggal sejak Ina kelas satu. Minggu pagi cerah ini Anis memang mengundang beberapa anak asuhnya ke rumah beserta beberapa orang pengurus yayasan. Sejak kemarin ia dan Mas Iqbal pontang-panting menyiapkan semuanya. Sebenarnya bisa saja Anis pesan makanan, tapi entah kenapa ia ingin menyiapkan sendiri, untungnya Mas Iqbal setuju dan membantunya penuh.
"Bu Anis, sup nya Farouk tumpah...." jerit Atikah nyaring.
Anis sibuk melayani mereka, Mas Iqbal juga tak kalah repot. Sekarang Anis memang semakin dekat dengan mereka, ia berusaha memberikan kasih sayang dan perhatian atau bimbingan semampunya. Mereka banyak membuka mata dan hatinya. Anak-anak malang yang membutuhkan kasih sayang dan bimbingan.
Selesai acara Anis kecapekan luar biasa, anak-anak itu terkadang manja dan mencari perhatiannya saja, tapi Anis senang. Tamu-tamu kecil itu menyemarakkan rumahnya.

Keesokan paginya Anis bangun agak siang. Selesai shalat subuh dan menyiapkan keperluan Mas Iqbal, ia tertidur lagi. Suaminya berangkat kerja tanpa pamit, kasihan pada Anis yang sepertinya masih kelelahan. Anis sendiri tidak pergi kerja hari ini, ia sudah izin sebelumnya.
Jam setengah delapan pagi Anis terbangun oleh dering telepon dari ibunya.
"Anis, selamat ulang tahun ya…semoga semakin bertambah keimanannya, sehat, bahagia dan cepat mendapatkan momongan", ujar ibu mendo'akan.
"Terima kasih ya, Bu" Anis tersadar bahwa hari ini usianya bertambah lagi. Sebenarnya ia tak pernah menganggap istimewa, tapi kalau ada yang ingat ya senang juga.
"Masih sering sedih nggak?..." Ibu menggodanya. Selain Mas Iqbal memang ibu yang paling memahami perasaannya dan tentu saja yang paling sering menghibur dan mendo'akannya.
"Ingat lho Nis, apa saja yang kita dapatkan itu sudah hasil seleksi dari sana dan itu adalah yang terbaik untuk kita. Kita harus ikhlas, sabar, dan senang menerimanya. Istri-istri Rasululloh pun ada yang tidak diberi momongan dan itu bukan dosa. Yang penting kita tak putus usaha dan berdo'a, bagaimana hasilnya biar Allah saja yang menentukan", ibu menasehati.
"Iya Bu" jawab Anis hampir tak terdengar. Ia terharu ibu selalu memperhatikan dan menghiburnya.

Setelah menutup telpon dari ibu Anis dikejutkan lagi oleh selembar surat di meja, yang ini ucapan selamat dari Mas Iqbal rupanya. Anis tersenyum membacanya tapi matanya akhirnya basah juga. Suaminya memang selalu sabar dan penuh perhatian, tak pernah sekalipun ia menyakiti hati Anis, kalaupun ada perbedaan pendapat selalu ia selesaikan dengan bijak. Tiba-tiba Anis merasakan lagi betapa besar nikmat yang telah dilimpahkan kepadanya. Rasanya tidak ada lagi alasan untuk bersedih, apalagi putus asa. Kalau memang sudah tiba waktunya dan baik untuknya, tentu harapan dan do'anya akan dikabulkan. Ia yakin tidak akan ada do'a dan usaha yang sia-sia. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, tidak mungkin Ia mendzholimi hamba-Nya dan Ia yang akan mengabulkan do'a. Insya Allah mungkin esok hari. Ya, siapa tahu… (er)

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui." (Al Ankabuut, 64)