Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2011

Antibiotik


antibiotikTahukah Anda bahwa pilek, flu, sebagian besar radang tenggorokan dan bronchitis disebabkan oleh virus? Dan tahukah juga Anda bahwa antibiotik tidak membantu melawan virus?
Ya, benar lho. Malahan, meminum antibiotik ketika Anda atau anak Anda terserang virus bisa lebih banyak dampak buruknya daripada baiknya. Meminum antibiotik ketika anak Anda tidak memerlukannya dapat meningkatkan resiko terkena infeksi di masa yang akan datang yang mana infeksi ini justru tidak mempan dilawan dengan antibiotik.
Baiklah, untuk lebih memahami pemakaian antibiotik yang tepat, sepertinya ada beberapa hal mendasar yang perlu Anda ketahui…

Pertanyaan Seputar Bakteri, Virus dan Antibiotik

T: Apa itu bakteri dan virus?
J: Bakteri adalah organisme bersel tunggal yang biasa ditemui dimana-mana, baik di dalam tubuh maupun di luar tubuh kita, kecuali dalam cairan darah dan cairan tulang belakang. Banyak bakteri yang tidak berbahaya. Bahkan, sebagian bakteri menguntungkan bagi kita. Namun begitu, bakteri penyebab penyakit bisa juga memicu timbulnya penyakit seperti penyakit tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri streptokokus dan beberapa jenis infeksi telinga. Adapun virus, ukurannya lebih kecil daripada bakteri. Virus tidak bisa bertahan hidup di luar sel tubuh kita. Dia menyebabkan penyakit dengan cara menyerang sel-sel yang sehat dan bereproduksi.
T: Apa saja jenis infeksi yang disebabkan oleh virus dan tidak boleh diobati dengan antibiotik?
J: Infeksi yang disebabkan oleh virus yang tidak boleh diobati dengan antibiotik termasuk:
  1. Pilek
  2. Flu
  3. Sebagian besar jenis batuk dan bronkhitis
  4. Radang tenggorokan (kecuali untuk radang tenggorokan yang disebabkan bakteri strepkokus)
  5. Sebagian infeksi telinga
T: Apa itu antibiotik?
J: Antibiotik, juga dikenal sebagai antimicrobial drugs (obat antikuman) yang melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Pada tahun 1927, Alexander Fleming menemukan antibiotik yang pertama, yaitu penisilin. Setelah digunakan dalam dunia medis sejak tahun 1940-an, antibiotik terbukti membantu mengurangi serangan berbagai penyakit.

Pertanyaan Seputar Resistensi Antibiotik

T: Apa itu resistensi antibiotik?
J: Resistensi antibiotik (antibiotic resistency) merupakan kemampuan bakteri atau kuman lainnya untuk melakukan perlawanan terhadap pengaruh antibiotik. Seringkali masyrakat kita menyebutnya dengan ‘kebal terhadap antibiotik’. Ini terjadi ketika bakteri berubah sedemikian rupa sehingga mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali efektifitas obat-obatan yang dirancang untuk mengobati atau mencegah terjadinya infeksi. Bakteri tersebut mampu bertahan hidup dan terus berkembang, sehingga menjadi lebih berbahaya.
T: Kenapa saya harus memahami masalah resistensi antibiotik?
J: Resitensi antibiotik saat ini sudah menjadi salah satu masalah besar dalam dunia kesehatan di seluruh dunia. Hampir semua jenis bakteri telah menjadi lebih kuat dan semakin tidak merespon terhadap perawatan antibiotik ketika sangat diperlukan. Bakteri yang ‘kebal’ ini bisa menyebar dengan cepat ke anggota keluarga yang lain, teman sekolah, teman kerja – sehingga mengancam orang banyak dengan rantaian penyakit menular baru yang akan lebih sulit untuk diobati dan lebih mahal juga tentunya.
Resitensi antibiotik dapat menyebabkan bahaya serius bagi anak-anak dan orang dewasa yang terkena infeksi biasa yang dulunya mudah diobati dengan antibiotik. Kuman dapat membentuk perlawanan terhadap obat-obatan tertentu. Nah, kesalahpahaman yang umum terjadi adalah banyak orang mengira bahwa tubuh seseoranglah yang menjadi ‘kebal’ terhadap obat-obatan tertentu. Padahal, yang ‘kebal’ itu sebenarnya kumannya, bukan orangnya.
Selanjutnya, ketika kuman menjadi ‘kebal’ terhadap berbagai obat, akan menjadi sangat sulit untuk mengobati infeksi yang disebabkannya. Lebih lanjut lagi, seseorang yang terkena infeksi dan infeksi tersebut sudah ‘kebal’ terhadap antibiotik, dapat menularkannya ke orang lain. Dengan begini, sebuah penyakit yang sukar diatasi akan tersebar dari satu orang ke orang lain.
T: Mengapa bakteri menjadi ‘kebal’ terhadap antibiotik?
J: Sebenarnya penggunaan antibiotiklah yang memancing berkembangnya bakteri yang ‘kebal’ terhadap antibiotik. Setiap kali seseorang meminum antibiotik, bakteri yang sensitif akan terbunuh, namun kuman yang ‘bandel’ akan tetap tersisa dan berkembang dengan pesat.
Pemakaian antibiotik yang terlalu sering dan tidak pada tempatnya merupakan sebab utama berkembangnya bakteri ‘kebal’ ini.
Walaupun antibiotik dianjurkan untuk mengobati infeksi bakteri, ia tidak efektif dalam melawan infeksi virus seperti pilek, sebagaian besar radang tenggorokan dan flu. Oleh sebab itulah diperlukan pemakaian antibiotik yang bijaksana.

Ingat, antibiotik membunuh bakteri, BUKAN virus.

T: Bagaimana proses bakteri menjadi ‘kebal’ terhadap antibiotik?
J: Sebenarnya ada beberapa cara yang ditempuh si bakteri. Sebagian bakteri akan membangun kemampuan untuk menetralisir kekuatan antibiotik sebelum menyerangnya. Sebagian bakteri lain memompa antibiotik keluar dengan sporadis. Sebagian lagi bisa mengalihkan daerah yang akan diserang oleh antibiotik, sehingga tidak mempengaruhi fungsi bakteri yang bersangkutan.
Antibiotik membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri yang mencurigakan. Terkadang, salah satu bakteri ada yang tetap bertahan karena memiliki kemampuan untuk menetralisir atau menyelamatkan diri dari antibiotik. Dari satu bakteri yang selamat ini, ia bisa berkembang dengan pesat sehingga dapat menggantikan jumlah bakteri yang terbunuh.
T: Bagaimana saya dapat mencegah terjadinya resitensi antibiotik?
J: Gunakanlah antibiotik HANYA pada kasus tertentu, dimana ia akan bermanfaat.
Berikut beberapa tips yang mungkin berguna:
  1. Tanyakan kepada dokter apakah antibiotik memang diperlukan untuk jenis penyakit yang diderita anak Anda dan tanyakan juga apa yang bisa Anda lakukan agar si kecil bisa segera sembuh.
  2. Jangan menggunakan antibiotik untuk infeksi virus seperti demam atau flu.
  3. Jangan menyimpan antibiotik yang tersisa dengan pertimbangan untuk digunakan nanti jika Anda memerlukannya lagi. Obat yang tersisa dari pengobatan apa saja yang anak Anda terima sebaiknya dibuang saja ketika masa pengobatannya sudah selesai.
  4. Jika memang diperlukan antibiotik, maka ikuti arahan dokter Anda. Jangan ada dosis yang terlewatkan. Sempurnakan konsumsi obat sesuai yang diresepkan, walaupun anak Anda sudah membaik kesehatannya. Jika pengobatan dengan antibiotik terhenti lebih awal, sebagian bakteri mungkin akan bertahan dan menyerang lagi.
  5. Jangan meminum antibiotik yang diresepkan untuk orang lain. Tidak setiap antibiotik cocok dengan penyakit anak Anda.
  6. Jika dokter Anda menyatakan bahwa penyakit si kecil bukan disebabkan oleh infeksi bakteri, tanyakan solusi untuk meredakan gejalanya. Jangan memaksanya untuk meresepkan antibiotik.

Berbagai Fakta Unik Seputar Antibiotik

  1. Anak-anak memiliki rasio tertinggi untuk pemakaian antibiotik.
  2. Tekanan dari orang tua ternyat sangat mempengaruhi pola pemakaian antibiotik di seluruh dunia. Sebuah studi menunjukkan, 62% dari konsultasi dokter akan berakhir dengan resep antibiotik ketika orang tua memaksa dan pada kasus dimana orang tua tidak mengaharapkan penggunaan antibiotik, angkanya menurun drastis menjadi 7%.
  3. Antibiotik terdapat dalam resep dari sekitar 68% pemeriksaan penyakit saluran pernapasan dan dari angka tersebut, menurut aturan, 80% diantaranya sebenarnya tidak perlu.
Satu catatan penting, walaupun artikel ini membahas penggunaan antibiotik untuk anak-anak, namun semua peringatan di atas juga berlaku untuk Anda lho…

Kamis, 07 April 2011

Sariawan

Sariawan pada anak, baik itu bayi maupun balita, lebih sering terjadi pada bibir, lidah,pipi bagian dalam (mukosa), dan tenggorokan.
Jarang sekali terjadi sariawan di gusi.Ada beberapa jenis sariawan yang kerap terjadi pada anak. Di antaranya stomatitis apthosa, yaitu sariawan karena trauma, misalnya tergigit atau terkena sikat gigi sehingga luka atau lecet. Lalu, sariawan oral thrush/moniliasis, yang disebabkan jamur candida albican. Biasanya sariawan ini banyak dijumpai di lidah. Ada pula stomatitis herpetik yang disebabkan virus herpes simplek. Sariawan jenis ini berlokasi di bagian belakang tenggorokan.

Proses terjadinya sariawan apthosa adalah karena gigitan atau tersodok sikat gigi sehingga menimbulkan luka/lecet. Jika kemudian kuman masuk dan daya tahan tubuh anak sedang turun, maka bisa terinfeksi. Timbul peradangan dan melahirkan rasa sakit atau nyeri.

Sedangkan pada sariawan moniliasis, dalam keadaan normal jamur memang terdapat dalam mulut. Saat daya tahan tubuh anak menurun, ditambah dengan penggunaan obat antibiotika yang berlangsung lama atau melebihi jangka waktu pemakaian, maka akan memudahkan jamur candida albican tumbuh lebih banyak lagi.

Sementara itu sariawan di tenggorokan biasanya langsung terjadi jika ada virus yang sedang mewabah dan pada saat itu daya tahan tubuh sedang rendah.

Gejala sariawan

Wajar jika para ibu sulit melihat tanda-tanda sariawan pada bayi, karena ia belum bisa bicara sehingga tidak bisa mengungkapkan rasa sakitnya. menurut dr. Rini Sekartini, SpA, dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Umumnya gejala yang muncul adalah suhu badan meninggi sampai 40 derajat Celcius.Bayi pun banyak mengeluarkan air liur lebih dari biasanya. Secara psikis, dia akan rewel. Tak mau makan atau makan dimuntahkan, tak mau susu botol bahkan ASI, dan gelisah terus."Mulut pun berbau. Biasanya karena kuman atau jamurnya," jelas Rini.

Sedangkan pada anak balita, lebih mudah terdeteksi karena dia sudah bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya. Terkadang disertai suhu yang naik, tapi tidak terlalu tinggi. Biasanya juga disertai berkurangnya nafsu makan.

"Jika pada bayi dan balita ditemui gejala seperti itu, sebaiknya orang tua memeriksa bagian mulutnya," anjur Rini. Dan memang seharusnya dilakukan pemeriksaan mulut secara rutin. Mulut anak dibuka dengan menggunakan alat spatel lidah yang berbentuk besi pipih dan panjang. Tekan lidah dengan alat ini, agak diturunkan sedikit, sehingga dapat terlihat bagian dalam mulut yang terkena sariawan.

Bentuk sariawan akan terlihat seperti vesikel atau bulatan kecil. Warnanya putih atau kekuningan. Mula-mula berdiameter 1-3 mm. Kemudian berkembang berbentuk selaput. Jika selaputnya mengikis, maka akan terlihat berbentuk seperti lubang/ulkus. Besarnya sariawan tetap, tidak membesar, melebar, atau menjalar seperti halnya bisul.

Biasanya pemunculan vesikel ini bersamaan dengan timbulnya panas. Adakalanya vesikel baru muncul 1-2 hari setelah panas. Kadang malah tanpa disertai panas, jika vesikel yang muncul cuma satu. Yang membuat panas umumnya sariawan karena jamur candida atau virus herpes.

Sebetulnya sariawan bisa sembuh sendiri seperti sariawan herpetik. Namun sariawan karena jamur harus diobati dengan obat anti-jamur. Biasanya memakan waktu penyembuhan sekitar seminggu. Jika sariawan tidak diobati akan bisa berkelanjutan. Memang tak sampai menyebar ke seluruh tubuh, paling hanya di sekitar mulut. Tetapi, sangat memungkinkan terjadinya diare, apabila jamurnya tertelan, mengalir lewat pembuluh darah.

PENANGANAN

Kendati sepele, anak jadi sering sulit makan gara-gara sariawan. Karena itu saat memberi makan sebaiknya suapi dengan sendok secara perlahan-lahan. Usahakan memberi minum lewat gelas, bukan dengan botol. Hal ini untuk menghindari kontak langsung dengan sariawan agar tidak menimbulkan gesekan dan trauma.

Makanan pun sebaiknya yang lembut atau cair. Prinsipnya, yang mudah ditelan dan suapi setelah makanan agak dingin agar tak menambah luka. Makanan yang banyak mengandung vitamin C dan B dapat mempercepat proses penyembuhan, misalnya buah-buahan dan sayuran hijau. Sedangkan kekurangan vitamin C bisa mempermudah timbulnya kembali sariawan.

Jika setelah diberi obat, biasanya obat kumur, tapi anak tak jua sembuh, maka harus dicari penyebab lain. Mungkin karena kuman yang bertambah, pemakaian obat dengan dosis yang tidak tepat/kurang, atau cara memberi makanan pada anak sariawan menyebabkan anak trauma lagi di lidah. Bisa juga lantaran daya tahan tubuh anak memang rendah.

Menurut Rini, anak yang sering sariawan lebih banyak karena daya tahan tubuhnya rendah, juga karena kebersihan mulut dan gigi tak terjaga.

 Unytuk pengobatannya :

Kalau menurutku ada yang lebih aman lagi yaitu minyak habbatussauda. Tuk sariawan anak dan dewasa manjur banget, tinggal diolesin ditempat sariawannya. dan kalau anakkubatuk atau flu aku tetesin 3 kali sehari, satu kali pemberian 3 tetes. InsyaAllah batuk/flunya sembuh. Alhamdulillah aku udah gak sebentar2 ke dokter untuk 2 anakku. trimakasih sudah diperbolehkan sharing disini. Semoga bermanfaat.

 Dan berikut tips tambahan jika bayi/anak anda terkena sariawan:
  • Ibu bisa mencoba memakai sendok atau sedotan kecil untuk memberi minum si bayi. Khusus untuk sedotan diberikan pada bayi yang sudah bisa menyedot dengan sedotan (sekitar 1 tahunan). Lakukan dengan hati-hati dan kitalah yang mengatur tempo saat bayi anda menyedot air susu supaya tidak tersedak.
  • Berilah minuman campuran madu bayi dan air. Bisa juga dengan mengolesi bibir/bagian sariawan dengan madu.
  • Usahakan minum atau makan dengan suhu rata-rata, tidak terlalu panas atau dingin.
Jadi, jangan pernah bosan melatih si kecil untuk menjaga kebersihan mulut dan giginya.